Kalteng Dijuluki Bumi Tambun Bungai, Siapa Dua Tokoh yang Kini Jadi Motif Batik?

KUALA KURUN – Nama Tambun Bungai akrab di telinga warga Kalimantan Tengah. Provinsi ini bahkan dijuluki Bumi Tambun Bungai. Kini dua tokoh legendaris itu hadir dalam bentuk baru: motif batik khas Kabupaten Gunung Mas (Gumas) yang diluncurkan di Kuala Kurun, Kamis (5/11/2026), menurut Radar Sampit.
Siapa sebenarnya Tambun dan Bungai? ANTARA Kalteng mencatat keduanya dikenal masyarakat sebagai sosok sakti pelindung rakyat yang berhasil mengalahkan musuh dari luar, sehingga sangat dihormati. Menurut Bupati Gumas Jaya Samaya Monong, keduanya berasal dari Desa Tumbang Pajangei, Kecamatan Tewah, Gunung Mas.
Radar Sampit menyebut keduanya sebagai pahlawan legendaris masyarakat Dayak Ngaju. Ketua Dekranasda Gumas Mimie Mariatie Jaya Samaya Monong menjelaskan, motif batik ini memuat filosofi sejarah Kerajaan Tanjung Pematang Sawang dan menampilkan figur Tambun dan Bungai.

Jejak nama itu di Gumas terus bertambah. Pada Juni 2026, Pemkab mengganti nama festival budaya tahunan dari Festival Budaya Mihing Manasa menjadi Festival Budaya Tambun Bungai. Logonya, menurut ANTARA Kalteng, memuat patung Tambun dan Bungai, ragam hias khas Kalimantan, serta rumah Betang sebagai simbol gotong royong dan kerukunan masyarakat Dayak.
Kepala daerah setempat juga menamai program unggulannya Program Tambun Bungai. Batik yang diluncurkan pekan ini melengkapi rangkaian itu, dan ditetapkan sebagai seragam ASN Pemkab Gumas.
“Ini adalah langkah nyata memperkuat identitas dan menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya kita,” ujar Jaya Samaya Monong, seperti dikutip Radar Sampit.
Kisah Tambun dan Bungai selama ini lebih banyak hidup lewat tutur lisan dan penamaan, dari julukan provinsi hingga nama lembaga. Menjadikannya motif kain membuat legenda itu bisa dikenakan dan dibawa ke luar daerah.
Yang belum diketahui adalah rincian ragam motif batik, siapa perajin yang membuatnya, dan apakah kain ini akan dijual untuk umum.
Catatan redaksi: disusun dari sumber yang disebutkan; foto arsip bukan dokumentasi peristiwa terbaru.
Sumber: ANTARA Kalteng, Radar Sampit
Baca juga

Api, Tangan, dan Hati di Logo Hari Pahlawan 2026, Apa Hubungannya dengan Surabaya 1945?

Batik Rifaiyah Batang Kini Dijual di Sarinah, Apa Bedanya dengan Batik Lain?

Dhaup Ageng Pertama dalam 18 Tahun, Apa Saja Prosesi Pernikahan di Pura Mangkunegaran?

