Berita Pilihan
Seni

Lima Dekade Ramayana Ballet Purawisata Menjaga Panggung Tari Jawa

Redaksi KabarPenduduk ·

Ilustrasi adegan Anoman Obong dalam Ramayana Ballet Prambanan, 14 Mei 2022; bukan pertunjukan Purawisata. Gambar diperkecil dan disimpan ulang sebagai JPEG tanpa mengubah isi.
Ilustrasi adegan Anoman Obong dalam Ramayana Ballet Prambanan, 14 Mei 2022; bukan pertunjukan Purawisata. Gambar diperkecil dan disimpan ulang sebagai JPEG tanpa mengubah isi.
Foto: Arfanda Hope / Wikimedia Commons — CC BY-SA 4.0 — https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=129143972

Ramayana Ballet Purawisata genap berusia 50 tahun pada 10 Agustus 2026. Kelompok pertunjukan di Yogyakarta itu mempertahankan kisah epik Ramayana dalam bentuk seni tari Jawa, sekaligus menjadi bagian dari lanskap wisata budaya kota selama lima dekade.

Cikal bakalnya bermula dari gagasan Dahanan dari THR Sasanasuka bersama Marcus Pardiman dan Suyadi pada pertengahan 1970-an. Kelompok tersebut resmi berdiri pada 10 Agustus 1976 untuk menyediakan pertunjukan malam bagi wisatawan, lalu membangun tradisi pementasan di Amphitheater Purawisata.

Konsistensi menjadi bagian utama dari riwayat kelompok ini. Badan Pelaksana Otorita Borobudur mencatat Ramayana Ballet Purawisata memperoleh penghargaan Museum Rekor-Dunia Indonesia pada 8 November 2002 setelah mementaskan balet Ramayana selama 25 tahun berturut-turut tanpa terputus.

Perayaan setengah abad bertema “50 Tahun Mengabdi, Menjaga Warisan Budaya” digelar di Gazebo Garden, Tasneem Hotel Malioboro. Dalam malam bertajuk Satkara Ratri, penghargaan kebudayaan diberikan kepada Emha Ainun Nadjib yang diwakilkan, Didik Nini Thowok, Yati Pesek, dan Dahanan.

Menuju malam puncak, penyelenggara menjalankan rangkaian kegiatan sepanjang 2026. Agendanya mencakup Pasar Minggu Jogja pada April dan Juni, sarasehan serta lokakarya inovasi pertunjukan pada Mei, kegiatan menonton bersama pelajar dan komunitas, Gelar Budaya Legenda Dolanan Anak Padang Mbulan pada Juli, serta Festival Konservasi Tari Ramayana kelima.

Malam perayaan ditutup dengan pertunjukan kolosal Ramayana Magnificent Performance, musik Kiai Kanjeng, dan pembacaan puisi oleh rekan-rekan Yayasan Kesejahteraan Tuna Netra Islam. Rangkaian itu memperlihatkan bahwa keberlanjutan panggung tradisi tidak hanya bergantung pada pertunjukan utama, tetapi juga regenerasi, ruang belajar, penghargaan bagi pelaku, dan keterlibatan komunitas.

Sumber: Badan Pelaksana Otorita Borobudur, Kementerian Pariwisata, “Ramayana Ballet Purawisata Rayakan 50 Tahun Pengabdian”, 10 Agustus 2026, https://bob.kemenpar.go.id/373575-ramayana-ballet-purawisata-rayakan-50-tahun-pengabdian/ ; halaman foto Wikimedia Commons, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Anoman_Obong.jpg

Catatan editorial: Tulisan ini adalah artikel budaya berdasarkan catatan resmi Badan Pelaksana Otorita Borobudur, bukan berita terbaru atau hasil wawancara redaksi. Foto menampilkan adegan Anoman Obong dalam Ramayana Ballet Prambanan pada 14 Mei 2022—bukan pertunjukan Purawisata—karya Arfanda Hope, berlisensi CC BY-SA 4.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). Gambar diperkecil dan disimpan ulang sebagai JPEG tanpa mengubah isi.

Baca juga