Rahasia Biru The Great Wave, Karya Hokusai yang Lahir dari Kerja Para Pencetak
Redaksi Berita Pilihan ·

Foto: Katsushika Hokusai / The Metropolitan Museum of Art · H. O. Havemeyer Collection, Bequest of Mrs. H. O. Havemeyer, 1929 · Public Domain / Open Access CC0 · https://www.metmuseum.org/art/collection/search/45434 · https://www.metmuseum.org/policies/image-resources · Konversi JPEG tanpa perubahan isi; tampilan mengikuti bingkai situs.
Seni lintas waktu — Gelombang yang membungkuk seperti hendak menelan perahu menjadi pusat perhatian dalam The Great Wave karya Katsushika Hokusai. Namun, kekuatan cetakan Jepang ini tidak hanya berasal dari rancangan sang seniman. Penelitian The Metropolitan Museum of Art memperlihatkan peran keterampilan para pencetak dalam membangun kedalaman warna birunya.
Karya yang juga berjudul Under the Wave off Kanagawa tersebut merupakan bagian dari seri Thirty-six Views of Mount Fuji. The Met memperkirakan cetakan koleksinya berasal dari sekitar 1830–1832, pada zaman Edo. Medianya bukan lukisan minyak, melainkan cetak balok kayu dengan tinta dan warna di atas kertas.
Biru yang Dibangun Berlapis
Dalam esai bertanggal 10 April 2020, ilmuwan The Met Marco Leona menjelaskan hasil pemeriksaan warna dan proses cetaknya. Para pencetak menggabungkan indigo dengan Prussian blue, pigmen biru impor. Jadi, warna yang lebih baru itu tidak sekadar menggantikan bahan lama; keduanya digunakan bersama.
Garis-garis gelap pada gelombang dicetak lebih dahulu dengan campuran kedua pigmen. Sesudahnya, Prussian blue murni dicetak di atas bagian tersebut dan mengisi ruang lain. Susunan lapisan menghasilkan peralihan dari biru pekat menuju biru yang lebih terang tanpa kehilangan intensitas warnanya.
Penelitian museum juga menyoroti permukaan kertas. Tekanan balok ketika mencetak meninggalkan lekukan, dan pencetakan dua kali memperkuat perbedaan ketinggiannya. Dengan demikian, kedalaman tidak hanya hadir sebagai kesan visual: proses produksi turut meninggalkan jejak fisik yang sangat halus pada lembaran tersebut.
Gunung Kecil di Tengah Ombak Besar
Permainan perspektif memberi lapisan pembacaan lain. Gunung Fuji tampak sebagai segitiga kecil di kejauhan, di bawah lengkung gelombang. Pada reproduksi, mata dapat mengikuti busa putih, badan perahu, lalu puncak gunung. Sebagai pengamatan visual redaksi, perbedaan skala itu membuat bentang alam terasa bergerak sekaligus menyisakan titik yang tenang.
Lembaran koleksi The Met berukuran 25,7 × 37,9 sentimeter dan tercatat sebagai bagian dari H. O. Havemeyer Collection, melalui warisan Mrs. H. O. Havemeyer pada 1929. Mengetahui ukuran aslinya membantu membayangkan betapa banyak rincian yang dimuat dalam bidang kertas yang relatif ringkas.
Reproduksi pendamping berasal dari koleksi digital museum yang ditandai Public Domain dan tersedia melalui kebijakan Open Access berpenetapan CC0. Pembaca dapat memperbesar citra untuk menelusuri garis dan peralihan birunya. Melihat dari dekat memberi kesempatan menghargai rancangan Hokusai sekaligus kerja para pemotong balok dan pencetak yang mewujudkannya.
Sumber dan dokumentasi
https://www.metmuseum.org/art/collection/search/45434
https://www.metmuseum.org/essays/hokusai-great-wave
https://www.metmuseum.org/policies/image-resources
Keterangan gambar: Katsushika Hokusai, The Great Wave, sekitar 1830–1832. Reproduksi koleksi The Metropolitan Museum of Art, nomor JP1847; bukan dokumentasi pameran baru.
Seni
Seni
Inspirasi
Inspirasi
Warisan
Seni