Berita Pilihan
Seni

Gordang Sambilan Menyatukan Sembilan Gendang dalam Tradisi Mandailing

Redaksi Opinix ·

Perangkat Gordang Sambilan yang didokumentasikan pada 25 Juli 2024. Foto: Nasution007/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0; dipotong dan diubah ukurannya.
Perangkat Gordang Sambilan yang didokumentasikan pada 25 Juli 2024. Foto: Nasution007/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0; dipotong dan diubah ukurannya.
Foto: Nasution007 / Wikimedia Commons — CC BY-SA 4.0

Gordang Sambilan adalah perangkat perkusi dalam kebudayaan Mandailing. Namanya merujuk pada sembilan gendang dengan ukuran berbeda yang dimainkan sebagai satu susunan, sehingga identitas bunyinya lahir dari hubungan antargendang, bukan dari satu instrumen tunggal.

Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh mencatat posisi Gordang Sambilan yang kuat dalam masyarakat Mandailing dan menyebutnya sebagai perangkat perkusi tradisi berukuran besar. Perbedaan ukuran gendang memberi rentang bunyi yang harus diatur melalui pembagian peran para pemain.

Sumber kebudayaan tersebut juga menjelaskan bahwa pada masa sebelum Islam, Gordang Sambilan memiliki fungsi sakral dalam upacara tertentu, termasuk pemanggilan roh leluhur. Konteks sejarah ini penting disampaikan dengan hati-hati karena fungsi pertunjukan dan pemaknaan dapat berubah mengikuti masyarakat serta acara yang menyelenggarakannya.

Dalam tradisi Mandailing, bunyi gordang juga berkaitan dengan tortor. Laman Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya menerangkan bahwa pada pelaksanaan adat tertentu, tortor hadir sebagai pelengkap gondang dan pembunyian Gordang Sambilan mengikuti tata acara, bukan pertunjukan yang dilepaskan dari konteksnya.

Karena itu, mempelajari Gordang Sambilan tidak cukup dengan menghitung sembilan gendang. Pengetahuan tentang pola pukulan, urutan, pembagian pemain, bahasa adat, pemimpin upacara, serta hubungan dengan gerak dan ruang pertunjukan merupakan bagian dari warisan yang sama pentingnya dengan benda fisik.

Foto pendamping dibuat pada 25 Juli 2024 dan memperlihatkan perangkat Gordang Sambilan. Ia membantu melihat susunan gendang, tetapi tidak merekam bunyi, peran setiap pemain, atau konteks adat dari sebuah pertunjukan.

Pelestarian yang bermakna menempatkan pelaku budaya sebagai sumber pengetahuan. Dokumentasi, pendidikan, dan pementasan dapat mendukung keberlanjutan apabila tidak memotong perangkat ini menjadi dekorasi semata atau menghapus aturan sosial yang menyertai cara memainkannya.

Sumber: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbaceh/perkusi-tradisi-terbesar-di-dunia-gordang-sambilan/ | https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/tor-tor/ | Halaman foto: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Gordang_Sambilan_Hanya_gendang.jpg | Lisensi: CC BY-SA 4.0 — https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0

Catatan editorial: artikel seni dan warisan evergreen. Fungsi sejarah dan hubungan dengan tortor diringkas dari sumber resmi kebudayaan; variasi praktik kontemporer tidak disamaratakan. Foto hanya dipotong dan diubah ukurannya.

Baca juga