Berita Pilihan
Seni

Sape Dayak Menyampaikan Riang, Rindu, hingga Duka

Redaksi Opinix ·

Alat musik sape Dayak dengan ukiran dekoratif dalam dokumentasi 24 November 2025. Tanggal sumber: 2025-11-24.
Alat musik sape Dayak dengan ukiran dekoratif dalam dokumentasi 24 November 2025. Tanggal sumber: 2025-11-24.
Foto: Foto: Mia Sulisnawati. Halaman berkas: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Alat_Musik_Sape_Dayak.jpg. Lisensi: CC BY-SA 4.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0). Perubahan: orientasi disesuaikan, ukuran diperkecil, dan format dikonversi ke JPEG; substansi gambar tidak diubah.

Ini adalah artikel seni tradisi, bukan berita pertunjukan terbaru. Sape—juga ditulis sampe’ dalam sejumlah sumber—merupakan alat musik petik yang hidup di berbagai komunitas Dayak. Bentuk, penyeteman, teknik bermain, dan konteks pemakaiannya tidak seragam, sehingga istilah umum “sape Dayak” sebaiknya tidak menghapus perbedaan tradisi setempat.

Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya pernah mendokumentasikan Arang, pemusik sampe’ dari Desa Mejun Sajau, Kabupaten Bulungan. Dalam profil itu, sampe’ dijelaskan sebagai sarana menyatakan perasaan, dari kegembiraan dan kasih sayang sampai kerinduan serta duka. Fungsi ekspresif ini membuat instrumen lebih dari sekadar pengiring tontonan.

Profil Anugerah Kebudayaan Indonesia tentang Irang Awai juga memperlihatkan hubungan antara memainkan dan membuat sape. Pengetahuan tidak berhenti pada lagu, tetapi mencakup pemilihan bahan, pembentukan badan alat, ukiran, perawatan senar, dan cara menyesuaikan bunyi. Keterampilan tersebut berpindah terutama melalui praktik bersama pelaku tradisi.

Dalam pertunjukan sastra lisan Dayak Kayan, Balai Pelestarian Kebudayaan mencatat talima berupa syair yang dilantunkan pada upacara atau suasana khusus dan biasanya diiringi petikan sape’. Hubungan itu memperlihatkan bahwa suara instrumen dapat membantu membawa cerita, pesan moral, ingatan keluarga, dan suasana ritual.

Panggung festival dan video digital dapat memperluas perkenalan publik, tetapi dokumentasi perlu menyebut komunitas, pemain, konteks, dan ejaan yang digunakan narasumber. Mengambil bunyi atau motif visual tanpa keterangan mudah mengubah tradisi yang kaya menjadi ornamen anonim. Kredit yang rinci adalah bagian dari penghormatan, bukan pelengkap.

Mendengarkan sape dengan cermat berarti memberi ruang pada pembuat, pemain, dan komunitas yang memelihara pengetahuan tersebut. Pelestarian yang sehat tidak menuntut musik membeku; ia memungkinkan perubahan sambil tetap menjaga jalur belajar, konteks sosial, serta hak pelaku untuk menjelaskan tradisinya sendiri.

Sumber: Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, “Arang, Maestro Alat Musik Sampe’”, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/arang-maestro-alat-musik-sampe/ ; Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, profil Irang Awai, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/profil-penerima-anugerah-kebudayaan-indonesia-2017-kategori-maestro-seni-tradisi-irang-awai/ ; Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII, “Sastra Lisan Kalimantan Barat dalam Sebuah Pertunjukan”, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbkalbar/sastra-lisan-kalimantan-barat-dalam-sebuah-pertunjukan/ . Diakses 11 Oktober 2026.

Catatan editorial: Tulisan ini adalah artikel berbasis dokumentasi resmi kebudayaan; variasi istilah sape/sampe’ dipertahankan mengikuti sumber. Tidak ada wawancara, rekonstruksi pertunjukan, atau klaim kepemilikan budaya yang dibuat oleh redaksi.

Baca juga