Berita Pilihan
Budaya

Totobuang dan Tifa Membentuk Percakapan Bunyi Maluku

Redaksi Opinix ·

Musisi memainkan totobuang dan drum di Amahusu, antara 1980 dan 1981. Dokumentasi historis satu tempat dan masa; berkas diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.
Musisi memainkan totobuang dan drum di Amahusu, antara 1980 dan 1981. Dokumentasi historis satu tempat dan masa; berkas diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.
Foto: H.W. (Henk) van Rinsum / Wereldmuseum Amsterdam, antara 1980–1981, CC BY-SA 3.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/) — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Muzikanten_tijdens_het_bespelen_van_een_totobuang_en_trommen_Amahusu_TMnr_20018272.jpg

Totobuang adalah alat musik pukul dari Maluku yang tersusun dari gong-gong kecil bernada. Ketika dimainkan bersama tifa, keduanya membentuk lapisan melodi dan ritme yang dikenal dalam praktik musik tifa totobuang.

Balai Pelestarian Kebudayaan di Maluku menjelaskan totobuang terbuat dari kuningan dan dimainkan dengan cara dipukul. Bentuknya perlu dibedakan dari tifa: totobuang menyediakan deretan nada, sedangkan tifa merupakan gendang yang menyusun denyut ritmis.

Nama tifa totobuang karena itu menunjuk kerja bersama instrumen, bukan satu benda tunggal. Dalam pertunjukan, pendengar dapat mengikuti bagaimana pola pukulan tifa menopang atau menjawab rangkaian nada pada gong-gong kecil.

Susunan perangkat dapat berbeda menurut kelompok dan konteks. Karena itu, satu foto atau satu pementasan tidak cukup untuk menetapkan bahwa semua ansambel memiliki jumlah gong, tata letak, atau repertoar yang seragam.

Arsip visual juga membantu membaca sejarah praktik tanpa mengubahnya menjadi gambaran beku. Foto Wereldmuseum Amsterdam memperlihatkan musisi memainkan totobuang dan drum di Amahusu pada rentang 1980–1981, sehingga yang terlihat adalah satu dokumentasi tempat dan masa tertentu.

Pelestarian tidak hanya berarti menyimpan instrumen. Pengetahuan tentang cara menata, memukul, mendengar, dan memainkan musik bersama diwariskan melalui latihan serta keterlibatan komunitas; konteks pertunjukan sebaiknya dijelaskan bersama bunyinya.

Foto pendamping dibuat H.W. van Rinsum di Amahusu antara 1980 dan 1981 dan berasal dari koleksi Wereldmuseum Amsterdam. Gambar digunakan sebagai dokumentasi historis, bukan representasi seluruh praktik Maluku masa kini; berkas hanya diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.

Sumber: Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX, Direktorat Jenderal Kebudayaan, keterangan tentang alat musik tradisional Totobuang, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpkw20/page/37/?cat=-1 ; Wikimedia Commons/Wereldmuseum Amsterdam, metadata foto “Muzikanten tijdens het bespelen van een totobuang en trommen Amahusu”, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Muzikanten_tijdens_het_bespelen_van_een_totobuang_en_trommen_Amahusu_TMnr_20018272.jpg

Catatan editorial: Tulisan ini adalah artikel budaya evergreen. Redaksi tidak menyamaratakan konfigurasi atau fungsi ansambel di seluruh Maluku; foto hanya diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.

Baca juga