Gending Sriwijaya Menyambut Tamu lewat Gerak, Musik, dan Tepak Sirih
Redaksi Opinix ·

Foto: Foto: Post of Indonesia. Halaman berkas: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Stamp_of_Indonesia_-_1993_-_Colnect_252647_-_Tari_Gending_Sriwijaya.jpeg. Lisensi: Public domain (). Perubahan: orientasi disesuaikan, ukuran diperkecil, dan format dikonversi ke JPEG; substansi gambar tidak diubah.
Ini adalah artikel seni, bukan berita pertunjukan terbaru. Tari Gending Sriwijaya dikenal sebagai tari penyambutan dari Sumatera Selatan. Gerak, musik, busana, dan tepak sirih disusun untuk menyampaikan penghormatan kepada tamu, sehingga pertunjukan bekerja sebagai tata sambut, bukan sekadar tontonan panggung.
Catatan Direktorat Jenderal Kebudayaan menyebut gagasan penciptaannya muncul pada masa pendudukan Jepang, ketika pemerintah di Keresidenan Palembang meminta lagu dan tari untuk menyambut tamu resmi. Prosesnya berlangsung sejak 1942–1943 dan dilanjutkan kembali pada Oktober 1943 setelah sempat tertunda.
Karya ini melibatkan lebih dari satu jenis keahlian. Catatan resmi menyebut Rozak sebagai ahli tari yang menjadi model, dengan pengarah gerak RM Akib dan R. Husin Natodoradjo. Rangkaian latihan dan uji coba menunjukkan bahwa tari tradisi yang kini tampak mapan sebenarnya lahir melalui proses penciptaan, kerja bersama, dan penyesuaian.
Pementasan resmi pertama disebut berlangsung pada 2 Agustus 1945 di halaman Masjid Agung Palembang untuk menyambut Moh. Syafei dan Djamaludin Adi Negoro. Dalam susunannya, penari utama membawa tepak berisi kapur, sirih, pinang, dan ramuan lain sebagai ungkapan penerimaan serta kegembiraan.
Sesudah kemerdekaan, Gending Sriwijaya terus digunakan dalam penyambutan tamu resmi di Sumatera Selatan. Keberlanjutan itu membuat tari hidup di antara dua kebutuhan: menjaga struktur dan makna yang diwariskan, sekaligus menyiapkan penari baru yang memahami konteksnya, bukan hanya menghafal rangkaian gerak.
Melihat Gending Sriwijaya secara utuh berarti memperhatikan hubungan antarelemen. Musik memberi bingkai gerak, busana menghadirkan identitas visual, dan tepak sirih membawa pesan keramahan. Ketika salah satu unsur dipisahkan dari konteks, sebagian bahasa sosial tarian ikut hilang; karena itu dokumentasi serta pengajaran dari pelaku berpengetahuan menjadi penting.
Sumber: Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, “Sejarah Tari ‘Gending Sriwijaya’”, 31 Mei 2018, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbsumbar/layanan/page/17/ ; Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, “Elly Rudy, Sang Maestro Tari Gending Sriwijaya”, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbsumbar/elly-rudy-maestro-tari-gending-sriwijaya/ . Diakses 11 Oktober 2026.
Catatan editorial: Tulisan ini merupakan artikel berdasarkan dokumentasi resmi kebudayaan; tidak mengklaim wawancara atau menyaksikan pertunjukan langsung. Ejaan nama dan tanggal mengikuti sumber yang diperiksa.
Seni
Seni
Seni
Inspirasi
Inspirasi
Warisan