Berita Pilihan
Warisan

Batik Tulis Lasem Menautkan Warna Pesisir dan Jejak Perdagangan

Redaksi Opinix ·

Kain batik tulis Lasem dengan warna merah terang khas batik pesisir, didokumentasikan 3 Mei 2007. Foto dipotong dan disesuaikan ukurannya; warna tidak dimanipulasi.
Kain batik tulis Lasem dengan warna merah terang khas batik pesisir, didokumentasikan 3 Mei 2007. Foto dipotong dan disesuaikan ukurannya; warna tidak dimanipulasi.
Foto: Gandrasta Bangko / Wikimedia Commons / CC BY-SA 3.0

Batik tulis Lasem tumbuh di kawasan pesisir Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dan dikenal melalui pertemuan teknik membatik, selera warna, motif, serta sejarah komunitas setempat. Pemerintah Kabupaten Rembang menggambarkannya sebagai hasil akulturasi Jawa dan Tionghoa. Istilah akulturasi di sini tidak berarti seluruh kain memiliki pola sama, melainkan menunjukkan percakapan panjang yang melahirkan banyak ragam.

Perlindungan mutakhir memberi penanda administratif yang jelas. Daftar Indikasi Geografis Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual mencatat Batik Tulis Lasem dengan nomor E-IG.09.2023.000004 dan tanggal 25 Juli 2023. Indikasi geografis menghubungkan nama produk dengan wilayah, reputasi, karakteristik, serta tata produksi yang dijelaskan oleh komunitas pemegang hak.

Jejak perdagangannya tidak hanya hidup dalam cerita lisan. Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat Arsip Jaringan Dagang Batik Lasem Awal Abad ke-20 sebagai Warisan Dokumenter Nasional pada 22 Mei 2024. Ratusan lembar surat dan dokumen dalam beberapa bahasa merekam jaringan dari berbagai pulau di Indonesia hingga Singapura dan Malaysia.

Arsip tersebut juga memperlihatkan sisi sosial produksi. ANRI menyebut adanya dokumen mengenai perempuan dalam keluarga produsen, organisasi, pengadaan bahan, dan dukungan pada masa perjuangan kemerdekaan. Dengan demikian, sejarah batik Lasem bukan hanya kronologi motif, tetapi juga sejarah kerja, perdagangan, mobilitas bahan, peran perempuan, dan hubungan antarkota.

Foto utama menampilkan warna merah terang yang sering diasosiasikan dengan batik Lasem. Namun, menilai kain hanya dari warna akan menyederhanakan keterampilan pembatik. Proses tulis menuntut penguasaan canting, malam, pengulangan pencelupan, pengaturan bidang, dan ketelitian mempertemukan motif. Variasi antarrumah batik juga merupakan bagian penting dari warisan tersebut.

Pelestarian perlu menjaga dua lapis sekaligus: kain sebagai benda dan pengetahuan sebagai praktik. Kain lama dapat dirawat, didokumentasikan, dan dipamerkan, tetapi keberlanjutan bergantung pada pembatik, pemasok bahan, pewarnaan, pasar yang adil, serta kesempatan generasi berikutnya untuk belajar. Label asal seharusnya membantu konsumen menanyakan proses dan pembuat, bukan sekadar membeli nama daerah.

Membaca batik Lasem secara utuh berarti mempertemukan bukti visual, aturan indikasi geografis, arsip dagang, dan suara komunitas pembuat. Setiap sumber menerangkan sisi berbeda. Pendekatan itu menghindarkan warisan dari romantisasi: keindahan kain tetap dihargai, sementara tenaga, jaringan ekonomi, dan tanggung jawab menjaga pengetahuan juga dibuat terlihat.

Sumber: https://www.dgip.go.id/menu-utama/indikasi-geografis/listing | https://mow.anri.go.id/warisan-dokumenter/nasional/detail/arsip-jaringan-dagang-batik-lasem-awal-abad-20-1900-1942 | https://rembangkab.go.id/uncategorized/batik-lasem-akulturasi-budaya-jawa-dan-tiongkok/ | Halaman foto: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Batik_Lasem_Tulis.jpg | Lisensi: https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0

Catatan editorial: artikel/panduan evergreen, bukan laporan peristiwa terbaru. Naskah disusun Redaksi Opinix dari sumber yang dicantumkan tanpa wawancara rekaan. Foto oleh Gandrasta Bangko, didokumentasikan 3 Mei 2007, berlisensi CC BY-SA 3.0; perubahan: pemotongan, pengubahan ukuran, dan konversi JPEG, tanpa manipulasi warna.

Baca juga