Berita Pilihan
Seni

Chine Collé Menyatukan Cetakan Halus dan Dua Lapis Kertas

Redaksi Opinix ·

Potret Ludwig Adolf Petri dalam litografi chine collé karya Julius Giere, 1850. Karya domain publik; berkas diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG tanpa pemotongan.
Potret Ludwig Adolf Petri dalam litografi chine collé karya Julius Giere, 1850. Karya domain publik; berkas diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG tanpa pemotongan.
Foto: Julius Giere/Rijksmuseum, 1850, domain publik (https://creativecommons.org/publicdomain/mark/1.0/) — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:1850_Julius_Giere_Lithographie_Portrait_Ludwig_Adolf_Petri,_Chine_Coll%C3%A9_(Ausschnitt),_Rijksmuseum_Amsterdam.jpg

Chine collé adalah teknik cetak yang menempatkan lembar kertas tipis di atas kertas penyangga yang lebih tebal, lalu mencetak dan merekatkan keduanya dalam satu rangkaian. Hasilnya bukan sekadar gambar yang ditempel, karena tinta, tekanan, serat kertas, dan lapisan penyangga bekerja sebagai satu objek cetak.

Departemen Seni dan Sejarah Seni University of Hawaiʻi at Mānoa menjelaskan bahwa teknik ini juga dikenal sebagai papier collé atau chine appliqué. Lembar tipis menerima citra sekaligus dipasang pada lembar belakang yang lebih kuat; praktiknya dipakai dalam litografi maupun cetak intaglio.

Kertas tipis memberi kemungkinan tonal yang berbeda dari kertas penyangga. Permukaannya dapat menampilkan detail lebih halus, tekstur lebih lembut, atau warna dasar yang memperkaya tinta, sementara kertas tebal menjaga karya tetap stabil saat ditangani dan dipajang.

Keberhasilan chine collé bergantung pada ketepatan penempatan, kadar perekat, kelembapan kertas, serta tekanan saat mencetak. Jika perekat tidak merata atau lembar tipis bergeser, tepi dapat menggelembung, keriput, atau keluar dari posisi yang direncanakan.

Sumber Hawaiʻi menautkan perkembangan teknik dengan tradisi pembuatan serta pemasangan kertas di Tiongkok dan Jepang yang telah berlangsung berabad-abad. Hubungan tersebut perlu dibaca sebagai sejarah material dan keterampilan lintas tradisi, bukan anggapan bahwa seluruh praktik Asia Timur dapat diringkas menjadi satu cara kerja.

Foto pendamping memperlihatkan litografi potret Ludwig Adolf Petri karya Julius Giere dari 1850 yang dibuat sebagai chine collé. Karya domain publik itu memberi contoh hasil akhir teknik, bukan demonstrasi langkah kerja di studio modern.

Sumber: Museum of Modern Art, “Chine collé”, https://www.moma.org/collection/terms/chine-colle ; University of Hawaiʻi at Mānoa, “The Laminated Print: Origins + Process of Chine Collé”, https://hawaii.edu/art/the-laminated-print-origins-process-of-chine-colle/ ; Wikimedia Commons, “1850 Julius Giere Lithographie Portrait Ludwig Adolf Petri, Chine Collé (Ausschnitt), Rijksmuseum Amsterdam.jpg”, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:1850_Julius_Giere_Lithographie_Portrait_Ludwig_Adolf_Petri,_Chine_Coll%C3%A9_(Ausschnitt),_Rijksmuseum_Amsterdam.jpg

Catatan editorial: Artikel ini adalah artikel teknik seni, bukan berita pameran terbaru atau laporan praktik studio redaksi. Foto karya domain publik hanya diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG tanpa pemotongan.

Baca juga