Berita Pilihan
Budaya

Kledi Mengalirkan Napas ke Pipa-Pipa Bambu Borneo

Redaksi Opinix ·

Seseorang memainkan kledi atau organ mulut di Borneo; tanggal dan pencipta tidak diketahui. Dokumentasi historis, bukan gambaran praktik masa kini atau identifikasi kelompok yang pasti; berkas diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.
Seseorang memainkan kledi atau organ mulut di Borneo; tanggal dan pencipta tidak diketahui. Dokumentasi historis, bukan gambaran praktik masa kini atau identifikasi kelompok yang pasti; berkas diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.
Foto: Pencipta tidak diketahui, tanggal tidak diketahui, koleksi KITLV 173593, CC BY 4.0 (https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/) — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Man_bespeelt_een_kledi_(mondorgel)_op_Borneo%2C_KITLV_173593.tiff

Kledi adalah salah satu jenis organ mulut dari Borneo yang memadukan ruang angin dari labu dengan beberapa pipa bambu. artikel ini membaca bentuk dan dokumentasi museum mengenai instrumen tersebut; tulisan ini bukan laporan pertunjukan atau klaim bahwa satu nama berlaku seragam bagi seluruh komunitas Dayak.

Institut für Musikforschung Universitas Würzburg menjelaskan organ mulut Asia Timur sebagai alat berlidah bebas. Udara dari mulut masuk ke ruang angin dan dibagi ke pipa. Pada kledi, ruang angin sering dibuat dari labu, sementara pipa bambu dengan panjang berbeda dipasang menembusnya.

Bunyi muncul ketika lidah bebas pada pipa bergetar dan lubang tertentu ditutup dengan jari. Sumber museum itu mencatat aliran udara dapat ditiup maupun diisap. Mekanisme tersebut berbeda dari suling biasa, karena sumber getarnya adalah lidah bebas, bukan semata-mata tepi lubang tiup.

Koleksi Smithsonian mencatat sebuah “Dyak Mouth Organ” dengan nama enkrurai atau kleddi dan tempat yang ditulis sebagai Borneo atau Kalimantan dengan ketidakpastian. Catatan seperti itu berguna, tetapi juga menunjukkan batas dokumentasi museum lama: ejaan, kelompok budaya, pencipta, dan lokasi dapat dicatat secara luas atau tidak lengkap.

Variasi nama—kledi, keledi, keluri, enkrurai, atau nama setempat lain—tidak boleh dianggap sinonim mutlak tanpa memeriksa komunitas dan koleksi. Bentuk pipa, jumlah pipa, posisi bermain, bahan, serta fungsi sosial dapat berbeda. Pengelompokan museum membantu perbandingan, tetapi tidak menggantikan pengetahuan pemilik tradisi.

Foto arsip yang digunakan memperlihatkan seseorang memainkan kledi di Borneo. Halaman berkas mencatat pencipta dan tanggalnya tidak diketahui. Ketidaklengkapan ini perlu dipertahankan sebagai informasi, bukan diisi dengan nama, komunitas, atau tahun yang tidak didukung bukti.

Foto pendamping berasal dari koleksi KITLV dan tidak bertanggal. Gambar merupakan dokumentasi historis seorang pemain, bukan gambaran praktik kledi masa kini, identifikasi kelompok yang pasti, atau bukti bahwa tradisinya seragam di seluruh Borneo.

Sumber: Institut für Musikforschung, Julius-Maximilians-Universität Würzburg, “East Asian Mouth Organs: Kledi/Sumpotan”, https://www.musikwissenschaft.uni-wuerzburg.de/en/musikinstrumente/bestand/inventarliste/lo18-19-g25-stw6-mundorgeln/ ; Smithsonian Institution Collections Search Center, “Dyak Mouth Organ (Enkrurai or Kleddi)”, https://collections.si.edu/search/results.htm?q=%22Dyak%22 ; Wikimedia Commons/KITLV, “Man bespeelt een kledi (mondorgel) op Borneo, KITLV 173593”, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Man_bespeelt_een_kledi_(mondorgel)_op_Borneo,_KITLV_173593.tiff

Catatan editorial: Tulisan ini ditandai sebagai artikel budaya, bukan berita terbaru. Redaksi tidak menyaksikan pertunjukan dan tidak mengisi metadata arsip yang tidak diketahui. Istilah kelompok dan variasi nama diperlakukan hati-hati. Foto hanya diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.

Baca juga