Berita Pilihan
Warisan

Gringsing Tenganan Menyatukan Ikat Ganda dan Pengetahuan Lintas Generasi

Redaksi Opinix ·

Kain geringsing bermotif dindingai dari Bali, diperkirakan dibuat sekitar 1900–1920 dan kini tercatat dalam koleksi Rijksmuseum.
Kain geringsing bermotif dindingai dari Bali, diperkirakan dibuat sekitar 1900–1920 dan kini tercatat dalam koleksi Rijksmuseum.
Foto: Rijksmuseum/Wikimedia Commons, CC0; diperkecil dan dikonversi ke JPEG.

Gringsing berasal dari Tenganan Pegringsingan di Kabupaten Karangasem, Bali, dan dikenal melalui teknik ikat ganda. Pada teknik ini, benang lungsi dan pakan sama-sama diikat serta diwarna sebelum ditenun. artikel ini membaca gringsing sebagai pengetahuan hidup, bukan hanya sebagai motif pada kain.

Basis data Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencatat Gringsing Tenganan dalam ranah kemahiran dan kerajinan tradisional dengan tahun penetapan 2015. Catatan itu penting karena pengakuan diarahkan pada keterampilan, proses, serta lingkungan sosial yang menjaganya, bukan semata-mata pada satu benda jadi.

Ikat ganda menuntut perencanaan pola pada dua arah benang. Ketika benang dipasang di alat tenun, bagian-bagian yang telah diwarna harus bertemu dengan cermat agar motif terbentuk. Sedikit pergeseran dapat mengubah batas bentuk, sehingga ketelitian penenun menjadi bagian yang tampak langsung pada permukaan kain.

Sumber resmi pariwisata Indonesia menyebut gringsing sebagai tenun khas Tenganan yang memakai teknik dobel ikat. Namun, nilainya tidak cukup dijelaskan dengan kelangkaan teknik. Motif, penggunaan, dan makna kain berhubungan dengan kehidupan masyarakat setempat; pembaca perlu menghindari anggapan bahwa semua gringsing memiliki fungsi atau cerita yang sama.

Pengetahuan menenun diteruskan melalui praktik: menyiapkan benang, merancang ikatan, mengelola pewarnaan, memasang lungsi dan pakan, lalu membaca hasilnya. Rangkaian itu memperlihatkan mengapa pelestarian tidak dapat hanya berupa penyimpanan kain lama. Keberlanjutan juga bergantung pada ruang belajar, bahan, waktu kerja, dan penghargaan yang layak bagi pembuat.

Bagi pengunjung atau pembeli, sikap yang lebih bertanggung jawab dimulai dengan menanyakan siapa pembuatnya, teknik yang digunakan, bahan, serta asal produk. Informasi semacam itu membantu membedakan karya yang benar-benar terkait dengan tradisi Tenganan dari barang yang hanya meminjam nama atau coraknya.

Foto pendamping memperlihatkan kain geringsing bermotif dindingai dalam koleksi Rijksmuseum, diperkirakan dibuat sekitar 1900–1920. Benda museum dapat membantu membaca teknik dan sejarah, tetapi tradisi gringsing tetap berada pada para penenun dan masyarakat yang mempraktikkannya hari ini.

Sumber: https://budaya.data.kemdikbud.go.id/wbtb/objek/AA000138 ; https://kwriu.kemendikdasmen.go.id/info-budaya-indonesia/warisan-budaya-tak-benda-indonesia/ ; https://www.indonesia.travel/id/id/travel-ideas/culture/gringsing

Kredit foto: Rijksmuseum, Doek Geringsing, AK-MAK-1742-5.jpg; halaman berkas https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Doek_Geringsing,_AK-MAK-1742-5.jpg.

Lisensi foto: CC0 (http://creativecommons.org/publicdomain/zero/1.0/deed.en). Perubahan: diperkecil, orientasi EXIF dinormalkan bila ada, dan dikonversi ke JPEG; isi visual tidak ditambah atau dihapus.

Referensi: Catatan editorial — artikel warisan evergreen; tidak mengklaim seluruh motif atau pemakaian gringsing memiliki makna tunggal. Tidak ada wawancara atau kutipan yang direka.

Baca juga