Sekomandi Menautkan Teknik Ikat dan Warisan Kalumpang
Redaksi Opinix ·

Foto: Rijksmuseum / Wikimedia Commons / CC0
Tenun ikat Sekomandi berkembang di Kalumpang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Kain ini dikenali melalui pola geometris, pewarnaan, dan proses ikat yang mengatur motif pada benang sebelum tenunan selesai. Ia hidup sebagai pengetahuan keterampilan sekaligus penanda hubungan komunitas.
Dalam teknik ikat lungsi, sebagian benang yang akan menjadi arah memanjang kain diikat agar bagian tertentu menolak warna. Ikatan dibuka atau diubah sesuai rancangan, kemudian benang ditenun. Karena motif dibangun sejak tahap benang, ketepatan susunan dan ingatan pola menjadi bagian penting dari kerja penenun.
Kementerian Pariwisata menyebut Sekomandi sebagai tradisi yang diwariskan turun-temurun di komunitas Kalumpang. Sumber itu juga menyoroti motif khas dan pemakaian pewarna alami. Pernyataan mengenai usia atau makna motif sebaiknya selalu dikaitkan dengan sumber dan penutur komunitas, bukan digeneralisasi dari rupa kain saja.
Koleksi museum membantu melihat jejak materialnya. Rijksmuseum menyimpan kain Sekomandi bernomor AK-MAK-1742-42, dibuat di Sulawesi oleh penenun anonim dan diperkirakan berasal dari 1900–1949. Katalog mencatat bahan katun, teknik tenun dan ikat lungsi, serta ukuran sekitar 178 kali 134 sentimeter.
Metropolitan Museum of Art juga mencatat beberapa kain Sekomandi dari Galumpang atau Kalumpang di Sulawesi. Keberadaan benda-benda itu di museum luar negeri memberi akses dokumentasi, tetapi juga mengingatkan bahwa katalog museum adalah satu lapisan pengetahuan; pemahaman hidup tetap berada pada komunitas pembuat dan pemakai.
Foto utama menampilkan kain Rijksmuseum tersebut. Pola berulang dapat diamati tanpa menebak makna setiap bentuk. Sikap ini penting karena kemiripan visual tidak otomatis membuktikan arti simbolik; tafsir yang bertanggung jawab memerlukan catatan asal, konteks penggunaan, dan keterangan dari pemilik tradisi.
Pelestarian Sekomandi bukan hanya menyimpan kain lama. Pengetahuan mengikat, mewarnai, menenun, menyebut motif, dan menjelaskan penggunaannya perlu diwariskan bersama kesempatan ekonomi yang adil bagi penenun. Dokumentasi yang terbuka bermanfaat jika kredit dan konteks asal tidak hilang.
Sumber: Kementerian Pariwisata RI, “Tenun Ikat Sekomandi Khas Sulbar dengan Motif Geometris Unik”, https://www.indonesia.travel/gb/en/travel-ideas/heritage/tenun-ikat-sekomandi ; Kementerian Pariwisata RI, siaran pers Sekomandi, https://kemenpar.go.id/berita/siaran-pers-wamenpar-tenun-sekomandi-warisan-500-tahun-daya-tarik-wisata-budaya-sulbar ; The Metropolitan Museum of Art, “Shroud (Sekomandi)”, https://www.metmuseum.org/art/collection/search/316413 . Diakses 13 Oktober 2026.
Catatan editorial dan foto: tulisan ini merupakan artikel evergreen. Foto objek koleksi Rijksmuseum, penenun anonim, sekitar 1900–1949, dari https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Dodendoek_Sekomandi,_AK-MAK-1742-42.jpg dengan lisensi CC0 (https://creativecommons.org/publicdomain/zero/1.0/). Perubahan: diperkecil, dipotong seperlunya, dan dikonversi ke JPEG.
Seni
Seni
Seni
Inspirasi
Inspirasi
Warisan