Bubungan Tinggi Membaca Tata Ruang Rumah Banjar
Redaksi Opinix ·

Foto: Khafi Muzakkir, 28 Maret 2021, CC BY-SA 4.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/) — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Rumah_Adat_Banjar_Bubungan_Tinggi_di_Martapura.jpg
Rumah Bubungan Tinggi merupakan salah satu tipe rumah tradisional Banjar di Kalimantan Selatan, dikenali antara lain dari atap tengah yang curam dan anjung di kedua sisi. artikel ini membaca bentuknya sebagai tata ruang budaya; tulisan ini bukan penilaian teknis atas satu bangunan.
Nama “bubungan tinggi” menunjuk bagian atap utama yang menjulang. Dalam susunan rumah, bangunan induk memanjang, sementara anjung kanan dan kiri menempel pada tubuh utama. Komposisi itu menghasilkan siluet simetris yang mudah dikenali, tetapi setiap rumah dapat memiliki variasi ukuran, umur, dan riwayat perubahan.
Ruang disusun berlapis dari bagian depan ke bagian dalam, dengan perbedaan fungsi dan ketinggian lantai. Istilah seperti palatar atau pamedangan, panampik, palidangan, dan padu menunjukkan bahwa rumah bukan sekadar kulit arsitektur. Perjalanan melewati ruang juga mengatur penerimaan tamu, kehidupan keluarga, dan pekerjaan rumah tangga.
Salah satu contoh terdokumentasi berada di Teluk Selong, Kabupaten Banjar. Sistem Data Pokok Kebudayaan Kabupaten Banjar mencatat Rumah Bubungan Tinggi di lokasi itu dibangun pada 1867 oleh saudagar batu permata H.M. Arif dan Hj. Patimah. Keterangan tersebut berlaku untuk objek spesifik, bukan tanggal lahir seluruh tipe rumah.
Kajian arsitektur 2024 oleh Agusniansyah dan Sarbini menyebut Bubungan Tinggi sebagai artefak monumental yang mewakili ingatan kolektif masyarakat Banjar. Penelitian itu mengeksplorasi bagaimana karakter fasad dapat ditafsirkan dalam rumah modern, sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian dapat melibatkan dokumentasi dan adaptasi yang peka, bukan penyalinan bentuk semata.
Material kayu, ukiran, sambungan, kelembapan, serangga, dan perubahan penggunaan menimbulkan kebutuhan perawatan khusus. Foto luar tidak cukup untuk menyimpulkan keadaan struktur. Pemeriksaan konservasi harus dilakukan oleh pihak berwenang dan tenaga yang memahami bangunan bersejarah.
Foto pendamping memperlihatkan sebuah Rumah Adat Banjar Bubungan Tinggi di Martapura pada 28 Maret 2021; keterangan berkas menyebut rumah itu dibangun pada 1875. Gambar mendokumentasikan satu contoh, bukan standar tunggal bagi semua rumah Banjar.
Sumber: Sistem Data Pokok Kebudayaan Kabupaten Banjar, “Rumah Adat Banjar Bubungan Tinggi Teluk Selong”, https://simdapokbud.banjarkab.go.id/objek-budaya/cagar-budaya/66 ; Nursyarif Agusniansyah dan Gusti Novi Sarbini, “Innovative Integration of Modern Facade Design with Traditional Bubungan Tinggi Facade”, ASEAN Journal on Science and Technology for Development 41(3), 2024, https://doi.org/10.61931/2224-9028.1598 ; Wikimedia Commons, metadata foto, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Rumah_Adat_Banjar_Bubungan_Tinggi_di_Martapura.jpg
Catatan editorial: Tulisan ini ditandai sebagai artikel budaya dan arsitektur, bukan berita terbaru. Redaksi tidak memeriksa bangunan di lokasi dan tidak menyimpulkan keaslian material dari foto. Tahun pembangunan dibatasi pada contoh yang disebut sumber. Foto hanya diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.
Seni
Seni
Seni
Inspirasi
Inspirasi
Warisan