Berita Pilihan
Seni

Membaca Gandrung Sewu sebagai Pertunjukan Kolosal

Redaksi Opinix ·

Pertunjukan Gandrung Sewu di Banyuwangi, 29 Oktober 2022. Foto dipotong seperlunya, diubah ukuran, dan dikonversi ulang ke JPEG.
Pertunjukan Gandrung Sewu di Banyuwangi, 29 Oktober 2022. Foto dipotong seperlunya, diubah ukuran, dan dikonversi ulang ke JPEG.
Foto: Zenvan duwi santoso, 29 Oktober 2022, CC BY-SA 4.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/) — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Tradisi_tari_gandrung_sewu.jpg

Foto 29 Oktober 2022 menangkap bentang pertunjukan Gandrung Sewu di Banyuwangi. Formasi besar membuat penonton melihat bukan hanya gerak seorang penari, tetapi pola ruang yang lahir dari banyak tubuh, kostum, musik, dan arah pandang yang dikoordinasikan.

Kata “sewu” merujuk pada skala seribu, tetapi nilai artistiknya tidak dapat dihitung dari jumlah peserta saja. Pertunjukan kolosal memerlukan pengaturan jarak, waktu masuk, keseragaman motif gerak, perubahan formasi, dan hubungan dengan ruang terbuka agar keseluruhan pola tetap terbaca.

Gandrung sendiri berakar pada tradisi Banyuwangi dan komunitas Osing. Dalam konteks panggung besar, unsur tradisi itu dipresentasikan melalui koreografi massal. Karena bentuk pertunjukan terus dikembangkan, dokumentasi harus selalu menyebut tahun dan tema agar satu edisi tidak dianggap mewakili semua edisi.

Foto dari sudut lebar berguna untuk membaca komposisi: warna kostum membentuk bidang, garis penari mengarahkan mata, dan ruang kosong memisahkan kelompok. Sebaliknya, gambar semacam ini kurang memadai untuk mempelajari detail rias, pola kaki, ekspresi, atau hubungan musikal seorang penari.

Portal resmi Kabupaten Banyuwangi pada 15 Oktober 2026 mengumumkan pengembangan konsep baru untuk Gandrung Sewu. Informasi aktual itu menegaskan bahwa festival merupakan praktik yang hidup, tetapi artikel ini tidak memakai pengumuman tersebut untuk mengubah makna foto 2022 atau mengklaim bentuk pertunjukan selalu sama.

Pelestarian seni kolosal memiliki dua sisi. Panggung besar memperluas jangkauan dan memberi pengalaman bersama, sedangkan pewarisan gerak, musik, busana, serta pengetahuan lokal memerlukan proses latihan yang lebih sunyi. Dokumentasi publik sebaiknya memberi ruang bagi kedua skala tersebut.

Membaca Gandrung Sewu secara hati-hati berarti menghindari dua penyederhanaan: menjadikannya sekadar angka peserta atau membekukannya sebagai tradisi yang tidak berubah. Foto, arsip program, dan keterangan penyelenggara perlu ditempatkan bersama agar sejarah tiap pementasan tetap dapat dilacak.

Sumber: Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, portal resmi, berita “Sasar Panggung Dunia, Gandrung Sewu Usung Konsep Baru”, 15 Oktober 2026, https://banyuwangikab.go.id/ ; Wikimedia Commons, kategori Gandrung Sewu, https://commons.wikimedia.org/wiki/Category:Gandrung_sewu ; halaman foto Wikimedia Commons tercantum pada kredit.

Catatan editorial: Artikel ini merupakan artikel seni dengan foto 2022, bukan laporan langsung pertunjukan 2026. Tidak ada wawancara atau kesaksian lapangan yang diklaim; gambar dipotong seperlunya, diubah ukuran, dan dikonversi ulang ke JPEG.

Baca juga