Berita Pilihan
Budaya

Aramba, Gong Nias yang Perlu Dibaca Bersama Konteksnya

Redaksi Opinix ·

Satu aramba atau gong Nias, didokumentasikan 7 Januari 2022. Foto bentuk benda tanpa klaim tentang riwayat koleksi; ukuran diubah dan disimpan ulang sebagai JPEG.
Satu aramba atau gong Nias, didokumentasikan 7 Januari 2022. Foto bentuk benda tanpa klaim tentang riwayat koleksi; ukuran diubah dan disimpan ulang sebagai JPEG.
Foto: Edison Zega A. Lewi, 7 Januari 2022, CC BY-SA 4.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/) — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Aramba.jpg

Aramba adalah sebutan untuk gong dalam kebudayaan Nias dan hadir sebagai benda bunyi sekaligus bagian dari kehidupan sosial. artikel budaya ini berfokus pada cara membacanya secara kontekstual, bukan menganggap satu benda mewakili seluruh masyarakat Nias.

Publikasi arkeomusikologi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membahas aramba sebagai alat musik perkusi dan menempatkannya dalam kajian panjang tentang benda bunyi logam di kawasan Asia Tenggara. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa bentuk, bahan, dan cara penggunaan sama pentingnya dengan suara yang dihasilkan.

Basis data kebudayaan pemerintah mencatat nama karya budaya Arumba, variasi ejaan yang perlu diperhatikan ketika menelusuri sumber. Dalam penulisan dan pencarian koleksi, ejaan Aramba maupun Arumba dapat muncul, sehingga identifikasi sebaiknya selalu dilengkapi asal daerah dan keterangan objek.

Sebagai gong, bunyi aramba dihasilkan ketika permukaan logam dipukul dan bergetar. Ukuran, ketebalan, titik pukul, serta ruang tempat dimainkan memengaruhi warna bunyi; foto saja tidak dapat menyampaikan pengalaman akustiknya.

Makna sebuah instrumen juga bergantung pada orang yang memainkan, peristiwa yang menyertainya, dan aturan komunitas. Karena itu, museum atau pertunjukan sebaiknya menjelaskan pembuat, pemilik, penggunaan, serta cara benda tersebut diperoleh dan dirawat.

Foto pendamping dibuat pada 7 Januari 2022 dan menampilkan satu aramba. Gambar itu berguna untuk mengenali bentuk visual, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan usia, asal desa, fungsi upacara, atau riwayat benda tanpa keterangan inventaris tambahan.

Pelestarian tidak berhenti pada menyimpan logam. Pengetahuan tentang teknik memainkan, istilah lokal, repertoar, pembuat, dan hubungan sosial di sekeliling instrumen perlu diteruskan bersama komunitas pemilik tradisi.

Sumber: Repositori Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, “Diskursus Musik dalam Arkeologi (Studi Arkeomusikologi)”, https://repositori.kemendikdasmen.go.id/7718/1/1.%20arkeomusikologi%202008%20%28FIX%29.pdf ; Data Pokok Kebudayaan, entri karya budaya Arumba, https://budaya.data.kemdikbud.go.id/wbtb/objek/AA001791 ; Wikimedia Commons, halaman foto dan metadata, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Aramba.jpg

Catatan editorial: Tulisan ini ditandai sebagai artikel budaya dan tidak mengklaim wawancara atau observasi pertunjukan. Foto berlisensi CC BY-SA 4.0; ukuran diubah dan disimpan ulang sebagai JPEG tanpa manipulasi isi.

Baca juga