Berita Pilihan
Warisan

Kolintang Menghubungkan Bunyi Kayu, Pengetahuan, dan Kebersamaan

Redaksi Opinix ·

Ansambel kolintang dari Minahasa, Sulawesi Utara; dokumentasi diunggah 18 Juli 2020. Gambar dipotong dan diperkecil.
Ansambel kolintang dari Minahasa, Sulawesi Utara; dokumentasi diunggah 18 Juli 2020. Gambar dipotong dan diperkecil.
Foto: North Sulawesi Education Quality Assurance Institute — domain publik — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Kolintang_Ensemble.jpg

Kolintang dari Sulawesi Utara tersusun dari bilah-bilah kayu dengan panjang berbeda yang dimainkan menggunakan pemukul. Instrumen ini melekat pada masyarakat Minahasa dan hadir dalam upacara, perayaan, serta pertunjukan budaya.

Pada 2024, UNESCO memasukkan praktik dan ekspresi budaya yang terkait dengan balafon dan kolintang ke dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan. Pengakuan itu diajukan lintas negara bersama Mali, Burkina Faso, Côte d’Ivoire, dan Indonesia, dengan perhatian pada kemiripan bahan, bentuk, fungsi, proses pewarisan, dan nilai yang menyertai instrumen.

Warisan takbenda bukan hanya benda musik yang dipajang. Di dalam kolintang terdapat pengetahuan memilih dan mengolah kayu, menata nada, memainkan bagian dalam ansambel, serta membangun koordinasi antarpemain agar keseluruhan musik terdengar padu.

UNESCO menyoroti nilai saling menghormati, toleransi, persatuan, dan kehidupan yang harmonis dalam praktik terkait instrumen tersebut. Karena itu, pelestarian tidak cukup dengan membuat pertunjukan; proses belajar antargenerasi, ruang latihan, dan keberlanjutan pembuat instrumen juga penting.

Pendengar dapat mendekati kolintang dengan mengenali susunan bunyi dan peran tiap pemain, bukan sekadar menyebutnya alat musik tradisional. Cara itu memberi perhatian pada keterampilan hidup yang membuat warisan terus berubah, dipraktikkan, dan diteruskan.

Sumber: UNESCO Intangible Cultural Heritage https://ich.unesco.org/en/RL/cultural-practices-and-expressions-linked-to-balafon-and-kolintang-in-mali-burkina-faso-cote-d-ivoire-and-indonesia-02131

Catatan editorial: Artikel ini merupakan artikel warisan budaya evergreen berdasarkan dokumen UNESCO, bukan laporan pertunjukan terbaru. Foto ansambel berstatus domain publik dipotong dan diperkecil; perubahan bukan penambahan unsur pada instrumen.

Baca juga