Berita Pilihan
Budaya

Anyaman Purun Menghubungkan Rawa, Motif, dan Kerja Tangan

Redaksi ·

Anyaman tikar purun dari Desa Menang Raya, Pedamaran, didokumentasikan 7 September 2024. Foto: Diranputri12; halaman foto: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Anyaman_Tikar_Purun.jpg; lisensi CC BY 4.0: https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/. Perubahan: diperkecil dan dikonversi ke JPEG.
Anyaman tikar purun dari Desa Menang Raya, Pedamaran, didokumentasikan 7 September 2024. Foto: Diranputri12; halaman foto: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Anyaman_Tikar_Purun.jpg; lisensi CC BY 4.0: https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/. Perubahan: diperkecil dan dikonversi ke JPEG.
Foto: Diranputri12 / Wikimedia Commons / CC BY 4.0

Anyaman purun bertumpu pada tumbuhan rawa yang seratnya dapat diolah menjadi tikar, bakul, dan beragam benda pakai. Hubungan antara bahan, lahan basah, serta keterampilan tangan menjadikan kerajinan ini sekaligus praktik budaya dan pengetahuan lingkungan.

Pangkalan data Warisan Budaya Takbenda Kementerian Kebudayaan mencatat Anyaman Purun Kalimantan Selatan dengan kode objek AA001065. Catatan itu menempatkannya dalam ranah kemahiran dan kerajinan tradisional.

Sumber Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya menyebut ragam motif seperti tapak catur, saluang mudik, bintang barhamburan, pancar walu, belah ketupat, gigi haruan, dan daun melancar. Nama motif memperlihatkan cara bentuk di sekitar diterjemahkan ke susunan anyaman.

Prosesnya tidak berhenti saat bahan diambil. Purun perlu disiapkan, dikeringkan, dipipihkan, dan bila diinginkan diberi warna sebelum helai disusun menurut pola. Perbedaan bahan dan kebiasaan setempat menghasilkan tekstur serta kelenturan yang tidak seragam.

Foto utama berasal dari Desa Menang Raya, Pedamaran, Sumatera Selatan, sementara pencatatan warisan yang dirujuk membahas tradisi Kalimantan Selatan. Artikel sengaja menyebut perbedaan lokasi itu agar satu contoh visual tidak dianggap mewakili seluruh tradisi daerah.

Membeli kerajinan purun dengan informasi pembuat dan asal membantu menjaga keterlacakan. Nama “purun” saja belum cukup untuk menerangkan spesies bahan, tempat tumbuh, teknik, motif, atau siapa yang mengerjakan produk tersebut.

Keberlanjutan kerajinan bergantung pada dua hal sekaligus: pewarisan keterampilan dan keberadaan lahan basah tempat bahan tumbuh. Mengangkat nilai produk tanpa memperhatikan ekosistem sumbernya akan memutus hubungan penting dalam tradisi.

Sumber: Data Pokok Kebudayaan, “Anyaman Purun Kalimantan Selatan”, https://budaya.data.kemdikbud.go.id/wbtb/objek/AA001065 ; Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, “Anyaman Purun Kalimantan Selatan”, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/anyaman-purun-kalimantan-selatan-anyaman-tradisional-kalimantan-selatan/ . Diakses 13 Oktober 2026.

Catatan editorial dan foto: tulisan ini merupakan artikel budaya evergreen dan membedakan lokasi foto dari objek warisan yang dirujuk. Foto oleh Diranputri12, 7 September 2024, dari https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Anyaman_Tikar_Purun.jpg dengan lisensi CC BY 4.0 (https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/). Perubahan: diperkecil dan dikonversi ke JPEG.

Baca juga