Berita Pilihan
Budaya

Gamelan Degung Mengolah Warna Bunyi Sunda

Redaksi Opinix ·

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Sunda UPI belajar gamelan degung di Bandung, 3 Desember 2011. Dokumentasi kegiatan belajar, bukan susunan baku semua ansambel; berkas diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Sunda UPI belajar gamelan degung di Bandung, 3 Desember 2011. Dokumentasi kegiatan belajar, bukan susunan baku semua ansambel; berkas diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.
Foto: SU15Dena, 3 Desember 2011, CC BY-SA 3.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/) — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Diajar_gamelan_degung.jpg

Gamelan degung adalah tradisi ansambel Sunda yang berkembang di Jawa Barat. artikel ini membahas perangkat musik dan perubahannya berdasarkan kajian akademik serta dokumentasi lembaga; tulisan ini bukan liputan pertunjukan atau wawancara dengan kelompok tertentu.

Disertasi Ross Swindells di City University London menggambarkan degung sebagai gamelan kecil yang khas Sunda. Kajian lapangan itu menelusuri asalnya sebagai ansambel bergengsi di lingkungan kabupaten dan pergeserannya menjadi bagian lebih luas dari kehidupan musik Bandung pada abad ke-20.

Susunan instrumen dapat berubah menurut kelompok dan repertoar, tetapi degung umumnya memadukan instrumen berpencu, bilah logam, gong, kendang, dan suling. Masing-masing tidak berdiri sendiri; pola antarinstrumen membentuk lapisan ritme, penanda struktur, serta garis melodi.

Koleksi instrumen Grinnell College menjelaskan suling degung sebagai seruling bambu berempat lubang dengan cincin saluran udara pada ujung tiup. Sumber itu menyebut suling menjadi anggota standar ansambel sekitar 1930-an dan dapat terdengar di antara idiophone serta membranophone yang lebih keras.

Perubahan repertoar bukan berarti tradisi berhenti menjadi degung. Kajian Swindells menunjukkan musisi menegosiasikan keterampilan, sistem nada, pengaruh industri kaset, serta bentuk pertunjukan baru. Tradisi hidup dapat mempertahankan ciri sambil menerima susunan dan konteks yang berubah.

Gamelan Indonesia dicatat UNESCO dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda pada 2021. Pencatatan itu mencakup keluarga praktik gamelan yang beragam, sehingga tidak boleh dipakai untuk menyatakan bahwa semua ansambel, laras, atau tata main di berbagai daerah sama.

Foto pendamping dibuat pada 3 Desember 2011 dan memperlihatkan mahasiswa Departemen Pendidikan Bahasa Sunda Universitas Pendidikan Indonesia belajar gamelan degung di Bandung. Gambar mendokumentasikan kegiatan belajar pada tanggal tersebut, bukan susunan baku semua kelompok.

Sumber: Ross Swindells, “Klasik, kawih, kreasi: musical transformation and the gamelan degung of Bandung, West Java, Indonesia”, City University London, https://openaccess.city.ac.uk/id/eprint/8415/ ; Grinnell College Musical Instrument Collection, “suling degung”, https://omeka-s.grinnell.edu/s/MusicalInstruments/item/1542 ; UNESCO Intangible Cultural Heritage, “Gamelan”, https://ich.unesco.org/en/RL/gamelan-01607

Catatan editorial: Tulisan ini ditandai sebagai artikel budaya, bukan berita pertunjukan terbaru dan bukan klaim atas satu versi paling autentik. Istilah serta perubahan sejarah diringkas dari sumber akademik dan kelembagaan. Foto hanya diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.

Baca juga