Berita Pilihan
Budaya

Rapa'i Geleng Menyatukan Tabuhan, Syair, dan Gerak Aceh

Redaksi Opinix ·

Rapa'i Pasee, salah satu bentuk instrumen dan tradisi rapa'i Aceh, 13 Desember 2015. Foto ini bukan pertunjukan Rapa'i Geleng. Gambar dipotong dan diubah ukurannya; warna tidak dimanipulasi.
Rapa'i Pasee, salah satu bentuk instrumen dan tradisi rapa'i Aceh, 13 Desember 2015. Foto ini bukan pertunjukan Rapa'i Geleng. Gambar dipotong dan diubah ukurannya; warna tidak dimanipulasi.
Foto: Ishak Mutiara / Wikimedia Commons / CC BY-SA 4.0

Tulisan ini membahas Rapa'i Geleng, seni pertunjukan Aceh yang menggabungkan alat tabuh rapa'i, nyanyian, dan gerak kelompok. Penulisan dengan tanda apostrof mengikuti bentuk nama instrumen, meskipun berbagai sumber juga menuliskannya sebagai Rapai Geleng.

Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemdikbud menjelaskan pertunjukan ini sebagai perkembangan dari media dakwah. Tabuhan tidak menjadi latar yang terpisah: pemain menyanyi, bergerak, dan memainkan rapa'i dalam koordinasi yang rapat.

Artikel KPKNL Banda Aceh pada 30 Maret 2023 menautkan Rapa'i Geleng dengan Aceh Barat Daya. Sumber itu membedakannya dari Saman melalui penggunaan instrumen serta bahasa, sekaligus menguraikan tiga bagian pertunjukan: saleum, kisah, dan lani.

Kecepatan bukan satu-satunya ukuran keterampilan. Gerak duduk, perubahan tempo, respons antarpemain, dan susunan syair menuntut latihan kelompok; kesalahan satu bagian dapat mengubah keterpaduan bunyi dan gerak seluruh barisan.

Foto 13 Desember 2015 memperlihatkan Rapa'i Pasee, jenis rapa'i Aceh yang berbeda dari pertunjukan Rapa'i Geleng. Gambar digunakan untuk memperkenalkan keluarga instrumen rapa'i, bukan untuk mengklaim bahwa objek foto berasal dari kelompok atau repertoar Geleng.

Pelestarian sebaiknya tidak berhenti pada panggung singkat atau kostum. Pengetahuan tentang pembuatan instrumen, cara memegang dan menabuh, bahasa syair, etika latihan, serta peran pelatih dan sanggar perlu didokumentasikan bersama komunitas pemilik tradisi.

Rapa'i Geleng memperlihatkan bahwa musik, lisan, dan tubuh dapat membentuk satu karya yang tidak mudah dipisahkan. Menghargainya berarti menyebut asal dan unsur pertunjukan dengan tepat, serta memberi ruang kepada pelaku Aceh untuk meneruskan pengetahuan mereka.

Sumber: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/seni-pertunjukan-yang-direpresentasikan-dari-media-dakwah-tari-rapai-geleng/ | https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-bandaaceh/baca-artikel/16012/Rapai-Geleng-Warisan-Budaya-dari-Aceh-Barat-Daya.html | https://dapobud.kemdikbud.go.id/wbtb | https://journals.um.ac.id/index.php/jip/article/view/1502 | Halaman foto: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Rapai_Pase.jpg | Lisensi: https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/

Catatan editorial: artikel budaya evergreen, bukan laporan pertunjukan terbaru. Foto mendokumentasikan Rapa'i Pasee dan diberi keterangan eksplisit agar tidak disamakan dengan Rapa'i Geleng. Foto oleh Ishak Mutiara, 13 Desember 2015, berlisensi CC BY-SA 4.0; perubahan: pemotongan dan pengubahan ukuran, tanpa manipulasi warna.

Baca juga