Berita Pilihan
Warisan

Gamelan Gong Gede Menata Ansambel Besar dalam Karawitan Bali

Redaksi Opinix ·

Ansambel Gamelan Gong Gede tampil di depan Bali Hotel, Denpasar, pada rentang 1900–1940. Foto arsip dipotong seperlunya, diubah ukuran, dan dikonversi ulang ke JPEG.
Ansambel Gamelan Gong Gede tampil di depan Bali Hotel, Denpasar, pada rentang 1900–1940. Foto arsip dipotong seperlunya, diubah ukuran, dan dikonversi ulang ke JPEG.
Foto: Pembuat tidak diketahui/Collectie Wereldmuseum (v/h Tropenmuseum), 1900–1940, CC BY-SA 3.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/) — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Gamelanorkest_geeft_een_Gamelan_Gong_Gede_voorstelling_voor_het_Bali_Hotel_in_Denpasar_TMnr_60030927.jpg

Gamelan Gong Gede adalah salah satu bentuk ansambel karawitan Bali berukuran besar. Foto arsip dari rentang 1900–1940 memperlihatkan sebuah pertunjukan di depan Bali Hotel, Denpasar, tetapi tidak dapat dianggap mewakili seluruh susunan dan praktik Gong Gede.

Institut Seni Indonesia Bali menjelaskan Gong Gede sebagai barungan besar dengan kelompok instrumen berbilah dan berpencon. Ukuran ansambel membuat pembagian peran antarinstrumen penting untuk membangun lapisan bunyi dan struktur tabuhan.

Sumber ISI Bali mengenai bentuk Gong Gede menyebut laras pelog lima nada. Keterangan laras itu membantu mengenali kerangka musikal, namun cara sebuah kelompok menyetel, menata instrumen, dan membawakan repertoar tetap harus dibaca dari praktik setempat.

Nama “gede” tidak hanya mengarahkan perhatian pada ukuran gong. Ia juga menunjuk skala barungan dan kebutuhan koordinasi banyak penabuh, dari pembawa melodi pokok dan elaborasi hingga penanda struktur serta pengatur dinamika.

Kajian tentang Gong Gede di Pura Ulun Danu Batur memperlihatkan hubungan ansambel dengan ruang dan fungsi upacara tertentu. Contoh itu penting, tetapi tidak boleh digeneralisasi seolah semua pertunjukan Gong Gede berlangsung dengan fungsi, susunan, dan repertoar yang sama.

Foto kolonial di depan hotel menghadirkan lapisan sejarah lain: tradisi tampil dalam ruang publik yang terdokumentasi lembaga. Untuk membacanya secara kritis, penonton perlu membedakan apa yang benar-benar tampak pada foto dari informasi yang tidak dicatat, seperti nama penabuh, repertoar, dan tujuan acara.

Pelestarian karawitan tidak selesai pada penyimpanan instrumen atau foto. Pengetahuan hidup bertahan melalui latihan, ingatan repertoar, keterampilan menyetel dan merawat alat, serta hubungan antargenerasi yang memungkinkan ansambel terus dimainkan.

Sumber: Institut Seni Indonesia Bali, “Instrumen dan Teknik Instrumentasi Gamelan Pegongan”, https://isibali.ac.id/instrumen-dan-teknik-instrumentasi-gamelan-pegongan/ ; Institut Seni Indonesia Bali, “Bentuk Gamelan Gong Gede”, https://isibali.ac.id/bentuk-gamelan-gong-gede/ ; Institut Seni Indonesia Bali, “Gamelan Gong Gede di Pura Ulun Danu Batur”, https://isibali.ac.id/gamelan-gong-gede-di-pura-ulun-danu-batur-1/ ; halaman foto Wikimedia Commons tercantum pada kredit.

Catatan editorial: Artikel ini merupakan artikel warisan budaya, bukan liputan pertunjukan terbaru. Foto arsip diberi rentang tanggal sesuai katalog dan tidak digunakan untuk mengarang rincian acara; berkas dipotong seperlunya, diubah ukuran, dan dikonversi ulang ke JPEG.

Baca juga