Berita Pilihan
Seni

Drypoint Mempertahankan Serpih Logam untuk Menghasilkan Garis yang Lembut

Redaksi Opinix ·

Reproduksi digital The Three Crosses, Rembrandt, 1653, drypoint pada vellum. The Met, 41.1.31; Gift of Felix M. Warburg and his family, 1941. Tanggal pemotretan digital tidak dicantumkan.
Reproduksi digital The Three Crosses, Rembrandt, 1653, drypoint pada vellum. The Met, 41.1.31; Gift of Felix M. Warburg and his family, 1941. Tanggal pemotretan digital tidak dicantumkan.
Foto: Rembrandt (Rembrandt van Rijn) / The Metropolitan Museum of Art / CC0 1.0

Pada drypoint, jejak alat tajam tidak hanya membentuk alur gambar. Serpih logam yang terangkat di tepi goresan juga dipertahankan untuk menahan tinta dan menghasilkan garis dengan kesan lembut serta pekat.

Penjelasan Victoria and Albert Museum membedakannya dari etsa: garis dibuat langsung pada pelat logam tanpa lapisan penahan asam ataupun pencelupan dalam larutan asam. Alat tajam mendorong logam ke pinggir alur, membentuk burr.

Esai Wendy Thompson untuk The Metropolitan Museum of Art menekankan keterbatasan bagian yang rapuh itu. Burr cepat aus saat pencetakan, sehingga kemampuan menghasilkan cetakan berkualitas tidak sama dengan pelat ukiran yang lebih tahan.

Karakter tersebut membuat drypoint bukan pilihan sederhana untuk penggandaan dalam jumlah besar. Namun justru tinta yang tertahan pada burr memberi kemungkinan nada gelap dan efek menyerupai beludru yang dicari seniman.

Salah satu contoh koleksi The Met ialah The Three Crosses karya Rembrandt tahun 1653, nomor 41.1.31. Museum mencatatnya sebagai drypoint yang dicetak pada vellum, bukan sekadar gambar hitam-putih dengan teknik yang tidak dibedakan.

Pada cetakan ini, Rembrandt sengaja menyisakan tinta di permukaan pelat. Menurut uraian museum, sebagian figur terselubung lapisan tipis, sementara semak di tepi kanan hampir tertutup tinta yang lebih tebal.

Vellum juga memengaruhi hasilnya karena menyerap lebih sedikit tinta dibanding kertas. Membaca cetakan ini berarti memperhatikan goresan, cara memberi tinta, dan bidang penerima gambar sekaligus, bukan menganggap semua impresi dari satu pelat pasti seragam.

Sumber (diperiksa 17 Oktober 2026 WIB):

Victoria and Albert Museum, What is print?

https://www.vam.ac.uk/articles/what-is-print

The Met, Wendy Thompson, The Printed Image in the West: Drypoint, Oktober 2003

https://www.metmuseum.org/essays/the-printed-image-in-the-west-drypoint

The Met, The Three Crosses, 41.1.31

https://www.metmuseum.org/art/collection/search/354631

Catatan editorial: Jenis: tulisan latar/evergreen (artikel nonaktual), bukan berita terbaru. Kurasi referensi museum oleh Redaksi Opinix, tanpa klaim kunjungan pameran atau wawancara seniman. Istilah burr dipertahankan dengan penjelasan agar tidak disamakan dengan noda cetak.

Foto dokumentasi / ilustrasi: Reproduksi digital The Three Crosses, Rembrandt, 1653, drypoint pada vellum. The Met, 41.1.31; Gift of Felix M. Warburg and his family, 1941. Tanggal pemotretan digital tidak dicantumkan.

Pembuat/kredit: Rembrandt (Rembrandt van Rijn).

Halaman foto:

https://www.metmuseum.org/art/collection/search/354631

Lisensi atau dasar izin: CC0 1.0 / public domain.

https://creativecommons.org/publicdomain/zero/1.0/

Perubahan: Orientasi EXIF disesuaikan bila tersedia, ukuran diperkecil, dan dikodekan ulang sebagai JPEG; tanpa penambahan objek atau manipulasi isi.

Dasar Open Access The Met:

https://www.metmuseum.org/hubs/open-access

Baca juga