Berita Pilihan
Warisan

Geringsing Tenganan Mempertemukan Ikatan Benang Lusi dan Pakan

Redaksi Opinix ·

Selendang geringsing seremonial dari Tenganan, diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19, koleksi Honolulu Museum of Art.
Selendang geringsing seremonial dari Tenganan, diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19, koleksi Honolulu Museum of Art.
Foto: Foto reproduksi: Hiart/Honolulu Museum of Art; CC0 1.0; perubahan: dikonversi ke JPEG dan diskalakan — halaman foto https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Geringsing_selendang_from_Bali,_Honolulu_Museum_of_Art_11642.1.JPG ; lisensi https://creativecommons.org/publicdomain/zero/1.0/

Geringsing adalah kain seremonial dari Tenganan, Bali, yang dibuat dengan teknik ikat ganda. Dalam teknik ini, benang lusi yang memanjang dan benang pakan yang melintang sama-sama diikat serta dicelup sebelum proses penenunan dimulai.

Catatan koleksi Australian Museum menjelaskan bahwa tantangan utamanya adalah menyelaraskan kedua kelompok benang yang telah berpola agar gambar muncul ketika ditenun. Karena warna dan bentuk direncanakan sebelum benang saling bertemu, kesalahan kecil pada ikatan atau posisi dapat menggeser motif.

Koleksi Australian Museum menempatkan geringsing dalam khazanah tekstil Indonesia, sedangkan catatan Rijksmuseum menghubungkan contoh kain dengan Tenganan sebagai tempat pembuatannya. Informasi museum penting karena mengaitkan benda dengan bahan, teknik, asal, dan pemakaian, bukan semata-mata motif dekoratif.

Salah satu contoh di Rijksmuseum, Geringsing Wayang Kebo, berupa kain bahu seremonial dari katun dengan teknik ikat ganda. Catatan koleksi juga menyimpan riwayat pemilikan dan perpindahan benda, sebuah konteks yang membantu pembaca melihat bagaimana warisan Indonesia hadir di museum luar negeri.

Pelestarian geringsing bergantung pada pengetahuan yang hidup: pemilihan benang, pengikatan, pewarnaan, penyelarasan pola, penenunan, serta pemahaman kapan kain digunakan. Dokumentasi museum dapat membantu pengenalan, tetapi tidak menggantikan peran perajin dan masyarakat Tenganan sebagai pemilik praktik budaya.

Sumber: Australian Museum, “Ceremonial textile (geringsing)” — https://australian.museum/learn/cultures/international-collection/indonesia/ceremonial-textile/ ; Rijksmuseum, “Shoulder cloth” — https://www.rijksmuseum.nl/en/collection/object/Schouderdoek--ebe31f6ea1e1e8b64a6503888a070029

Catatan editorial: Ini adalah artikel warisan evergreen, bukan berita terbaru atau laporan kunjungan ke Tenganan. Foto memperlihatkan selendang geringsing dari Tenganan, diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-19 dan kini berada dalam koleksi Honolulu Museum of Art; reproduksi digital digunakan di bawah CC0.

Baca juga