Berita Pilihan
Warisan

Jejak Pekalongan pada Kain Abad Ke-19 Koleksi The Met

Redaksi ·

Sarong (Kain Lepas) dari Pekalongan, pertengahan–akhir abad ke-19, koleksi The Metropolitan Museum of Art nomor 30.88.2. Foto dokumentasi koleksi, bukan dokumentasi pameran baru.
Sarong (Kain Lepas) dari Pekalongan, pertengahan–akhir abad ke-19, koleksi The Metropolitan Museum of Art nomor 30.88.2. Foto dokumentasi koleksi, bukan dokumentasi pameran baru.
Foto: The Metropolitan Museum of Art · Rogers Fund, 1930 · Public Domain / Open Access · https://www.metmuseum.org/art/collection/search/308005. Gambar dikonversi ulang ke JPEG tanpa memotong isi.

Gajah, burung, kuda, dan berbagai bentuk hewan memenuhi bidang kain berwarna terang. Di sebelahnya, susunan segitiga membentuk panel gelap. Kedua bidang mengundang mata bergerak dari satu detail ke detail berikutnya.

Kain tersebut tercatat dalam koleksi The Metropolitan Museum of Art dengan nama Sarong (Kain Lepas), nomor 30.88.2. Katalog museum menempatkan asalnya di Pekalongan, Jawa, Indonesia, dan memperkirakan pembuatannya pada pertengahan hingga akhir abad ke-19. Medium yang dicantumkan adalah katun dan cat, dengan ukuran sekitar 111,76 × 213,36 sentimeter.

Figur besar berdampingan dengan bentuk kecil, sementara garis tepi menjaga komposisinya. Perbedaan skala dan arah memberikan irama tanpa perlu menebak makna motif.

Kredit koleksinya tercatat sebagai Rogers Fund, 1930. Dokumentasi ini memungkinkan pengamatan dekat terhadap benda lama; pembahasannya bukan laporan pameran baru atau kunjungan langsung.

Pekalongan sendiri memiliki konteks kerajinan yang lebih luas. Dalam profil Jaringan Kota Kreatif UNESCO, kota ini tercatat sebagai anggota bidang Crafts and Folk Art sejak 2014. UNESCO menempatkan perancangan dan produksi batik sebagai bagian penting dari identitas kota, yang berhubungan dengan seni, budaya, sekaligus ekonomi masyarakat.

Profil tersebut juga menjelaskan keterhubungan budaya batik dengan pendidikan serta rencana pengembangan ekonomi kreatif. Museum Batik dan ruang lokakarya untuk pelajar menjadi bagian dari upaya meneruskan pengetahuan. Dengan cara itu, pelestarian tidak hanya berlangsung melalui penyimpanan benda, tetapi juga melalui kesempatan bagi generasi berikutnya untuk mempelajari keterampilan.

UNESCO turut menyoroti potensi pembangunan berbasis budaya dalam mendukung penghasilan warga, terutama perempuan. Prioritas yang dicantumkan mencakup perlindungan tradisi, penguatan kelembagaan, jejaring kolaborasi, dan pengembangan industri batik yang memperhatikan lingkungan. Kerajinan dengan demikian dibaca sebagai hubungan antara praktik berkarya dan kehidupan kota.

Dilihat berdampingan, dokumentasi kain lama dan gambaran ekosistem kreatif Pekalongan menawarkan dua pintu masuk yang saling melengkapi. Yang pertama mengajak kita memperhatikan benda secara teliti; yang kedua mengingatkan bahwa keberlanjutan kerajinan bergantung pada orang, pembelajaran, serta ruang berkarya. Selembar kain dapat menjadi awal percakapan yang lebih panjang tentang semuanya.

Sumber:

The Metropolitan Museum of Art — Sarong (Kain Lepas), objek 30.88.2: https://www.metmuseum.org/art/collection/search/308005

UNESCO Creative Cities Network — Pekalongan: https://www.unesco.org/en/creative-cities/pekalongan

Catatan editorial: artikel berbasis dokumentasi koleksi dan profil kota kreatif; bukan kabar pameran terbaru. Foto menampilkan objek yang dibahas.

Baca juga