Gambuh Bali, Ketika Gerak Tari dan Dialog Berjalan Bersama
Redaksi Opinix ·

Foto: Ni Ketut Sri Laksmi / CC BY-SA 3.0 (Wikimedia Commons)
Gambuh merupakan dramatari klasik Bali yang mempertemukan tari, drama, dialog, musik, dan tembang. Keragaman unsur itu membuatnya dapat dibaca sebagai teater yang utuh. Penonton tidak hanya mengikuti gerakan tubuh, tetapi juga hubungan tokoh dan jalan cerita yang dibangun lewat suara serta percakapan.
Kajian Ni Diah Purnamawati dalam jurnal Kalangwan tahun 2018 menjelaskan bahwa lakon Gambuh umumnya bersumber pada cerita Panji dan lontar Malat. Tulisan tersebut menelaah dialog cerita Dedoyan dengan bahan dari Sanggar Tari Nyoman Kakul di Batuan, Gianyar. Lingkup ini perlu disebut agar pembacaan satu repertoar tidak dianggap berlaku persis pada setiap kelompok.
Bahasa menjadi salah satu kuncinya. Dalam kajian tersebut, Kawi dan bahasa Bali dipakai menurut peran yang dibawakan; punakawan membantu menghubungkan tuturan tokoh dengan pemahaman penonton. Dengan demikian, peralihan bahasa merupakan bagian dari cara cerita bekerja di panggung, bukan sekadar pergantian kosakata.
Purnamawati juga menjelaskan bahwa improvisasi dialog berlangsung setelah pemain memahami isi, tema, alur, dan watak tokoh. Kebebasan bertutur tetap bertumpu pada pengetahuan cerita. Pendokumentasian dialog yang dilakukan peneliti dimaksudkan menjadi pegangan belajar sekaligus membantu pewarisan keterampilan pertunjukan.
Iringan memberi lapisan lain pada pertunjukan. Artikel Komang Ayu Tri Paramitha dan I Wayan Diana Putra dalam jurnal PENSI tahun 2021 menjelaskan perangkat pegambuhan berlaras pelog tujuh nada, dengan suling dan rebab sebagai penggarap melodi. Mendengar unsur tersebut dapat membantu penonton mengikuti hubungan musik dengan gerak serta dialog.
Saat menonton atau mempelajari rekamannya, pembaca dapat mencatat lakon, nama sekaa atau sanggar, serta tempat dan tanggal pementasan. Catatan itu membantu membedakan penjelasan umum dengan pilihan artistik suatu kelompok. Foto arsip dari Batuan yang menyertai tulisan ini menjadi pengantar visual, bukan dokumentasi pertunjukan terbaru atau semua adegan Dedoyan.
Sumber:
Ni Diah Purnamawati, Deskripsi Dialog Drama Tari Gambuh Cerita Dedoyan, Kalangwan 4(1), Juni 2018 — https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/kalangwan/article/download/449/229/1154
Komang Ayu Tri Paramitha dan I Wayan Diana Putra, Eksistensi Kesenian Dramatari Gambuh di Desa Adat Pedungan, PENSI 1(2), Oktober 2021 — https://repo.isi-dps.ac.id/4710/1/Jurnal%20Pensi%20Eksistensi%20Gambuh.pdf
Catatan editorial: artikel evergreen (tulisan latar nonaktual), disusun dari referensi yang diperiksa pada 16 Oktober 2026; bukan laporan peristiwa terbaru. Redaksi Opinix melakukan kurasi sumber, tanpa liputan lapangan atau wawancara sendiri.
Keterangan foto: Dokumentasi penari Gambuh di Batuan, Bali, 5 September 2007. Foto arsip; bukan pertunjukan terbaru atau identifikasi adegan Dedoyan. Kredit: Ni Ketut Sri Laksmi. Halaman foto: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:09_05_07_ngayah_GAMBUH_Batuan_(_2007_%E2%80%94_PICs_)_%E2%80%94_11_arya.jpg
Lisensi/status hak: CC BY-SA 3.0 — https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0
Perubahan: ukuran disesuaikan dan berkas disimpan ulang sebagai JPEG; isi gambar tidak diubah.
Seni
Seni
Seni
Inspirasi
Inspirasi
Warisan