Berita Pilihan
Budaya

Pakarena Mempertemukan Gerak Tenang dan Irama Gandrang

Redaksi Opinix ·

Pertunjukan tari Pakarena dalam dokumentasi terbuka 24 Agustus 2019. Tanggal sumber: 2019-08-24 18:26:58.
Pertunjukan tari Pakarena dalam dokumentasi terbuka 24 Agustus 2019. Tanggal sumber: 2019-08-24 18:26:58.
Foto: Foto: Ali Froghi. Halaman berkas: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Performing_pakarena_dance.jpg. Lisensi: CC BY-SA 4.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0). Perubahan: orientasi disesuaikan, ukuran diperkecil, dan format dikonversi ke JPEG; substansi gambar tidak diubah.

Ini adalah artikel budaya, bukan laporan pertunjukan terbaru. Laman Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya menempatkan Pakarena sebagai tari tradisional masyarakat Makassar. Ciri yang segera tampak adalah pertemuan dua energi: gerak penari perempuan yang lambat dan anggun berhadapan dengan iringan gendang serta puik-puik yang kuat.

Kontras itu bukan alasan untuk menilai salah satu unsur sebagai latar bagi unsur lain. Gerak, musik, busana, ruang, dan urutan pertunjukan bekerja bersama. Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan mencatat gandrang hadir dalam berbagai konteks masyarakat Makassar, termasuk pertunjukan Pakarena, dan pola tabuhnya dapat menandai kemunculan penari.

Sumber kebudayaan juga menyimpan lebih dari satu kisah mengenai asal Pakarena. Kisah-kisah tersebut penting sebagai bagian dari pengetahuan budaya, tetapi tidak sama dengan bukti sejarah yang dapat dipastikan hanya dari satu teks. Menyebut adanya ragam penuturan lebih jujur daripada memilih satu versi lalu menyatakannya sebagai satu-satunya asal.

Foto artikel memperlihatkan satu pertunjukan pada 24 Agustus 2019. Kostum, jumlah penari, susunan pemusik, durasi, dan tata panggung dapat berbeda menurut kelompok serta acara. Satu gambar tidak dapat mewakili seluruh gaya, wilayah, atau pengetahuan yang hidup di antara pelaku Pakarena.

Dokumentasi sebaiknya menyebut kelompok, lokasi, acara, penata, penari, dan pemusik bila datanya tersedia. Merekam dari penonton juga tetap mengikuti izin penyelenggara. Potongan video yang dilepaskan dari konteks dapat membuat gerak tampak sebagai hiasan, padahal pelaku mempelajari teknik, irama, dan hubungan antarbabak.

Pakarena mengajarkan bahwa ketenangan gerak tidak berarti pertunjukan tanpa tenaga. Daya justru dibangun melalui kendali, pengulangan, kontras bunyi, dan kerja bersama. Menghargainya berarti menonton dengan sabar, menyebut sumber tradisi secara tepat, dan memberi ruang kepada pelaku untuk menjelaskan praktik mereka sendiri.

Sumber: Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, “Pakarena”, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/pakarena/ ; Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan, “Gandrang, Alat Musik Tradisional Makassar”, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbsulsel/gandrang-alat-musik-tradisional-makassar/ ; Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan, “Ragam Teknik Memainkan Gandrang”, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbsulsel/ragam-teknik-memainkan-gandrang/ . Diakses 12 Oktober 2026.

Catatan editorial: artikel ini merangkum publikasi kebudayaan resmi dan foto terbuka. Redaksi tidak mengklaim wawancara, pengamatan lapangan, atau satu versi tunggal mengenai asal Pakarena.

Baca juga