Berita Pilihan
Warisan

Rumah Limas Membaca Ruang Bertingkat dalam Arsitektur Palembang

Redaksi Opinix ·

Replika Rumah Limas di Museum Balaputra Dewa, Palembang, 18 Januari 2024. Satu objek museum, bukan wakil seluruh variasi Rumah Limas; foto dipangkas seperlunya, diubah ukuran, dan dikonversi ke JPEG.
Replika Rumah Limas di Museum Balaputra Dewa, Palembang, 18 Januari 2024. Satu objek museum, bukan wakil seluruh variasi Rumah Limas; foto dipangkas seperlunya, diubah ukuran, dan dikonversi ke JPEG.
Foto: Firzafp, 18 Januari 2024, CC BY-SA 4.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0) — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Replica_of_Rumah_Limas%2C_South_Sumatra_(Balaputra_Dewa)_Museum_-_Sukarame%2C_Palembang%2C_SS_(18_January_2024).jpg

Rumah Limas dikenal sebagai salah satu bentuk rumah tradisional Palembang dan Sumatera Selatan. artikel ini membahas hubungan antara bentuk panggung, ruang bertingkat, bahan kayu, dan lingkungan; tulisan ini bukan klaim bahwa semua rumah di wilayah tersebut memiliki susunan yang sama.

Kajian arsitektur yang diterbitkan Jurnal Arsitektur ZONASI menyoroti bentuk panggung, ventilasi, penggunaan kayu, dan lantai bertingkat sebagai unsur adaptasi Rumah Limas. Lingkungan lembap serta kedekatan Palembang dengan jaringan sungai membantu menjelaskan mengapa rumah tidak hanya dibaca dari hiasan muka.

Nama “limas” sering dihubungkan dengan bentuk atapnya. Di dalam, perbedaan ketinggian lantai atau kekijing membentuk urutan ruang. Susunan ini berkaitan dengan tata kegiatan dan aturan sosial, tetapi maknanya perlu dibaca menurut keluarga, masa, dan sumber; satu denah tidak mewakili seluruh variasi.

Bahan kayu memungkinkan sambungan, perbaikan, dan pembentukan ruang yang berbeda dari bangunan pasangan batu. Pilihan jenis kayu, umur bahan, kelembapan, serangga, dan pemeliharaan memengaruhi ketahanan. Pelestarian karena itu membutuhkan pengetahuan bahan serta keterampilan tukang, bukan sekadar pengecatan ulang.

Penelitian tentang transformasi Rumah Limas akibat perkembangan kota menunjukkan bahwa arsitektur tradisional tidak beku. Perubahan lahan, kebutuhan keluarga, bahan, biaya, dan peraturan dapat mengubah bentuk maupun fungsi. Dokumentasi perlu mencatat bagian lama, tambahan baru, dan alasan perubahan tanpa segera menyebut semuanya sebagai kehilangan.

Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa menampilkan replika Rumah Limas sebagai sarana pembelajaran. Replika membantu melihat bentuk dan ruang, tetapi harus dibedakan dari rumah yang memiliki riwayat hunian, lokasi asli, serta perubahan lintas generasi. Keduanya memberi jenis informasi yang berbeda.

Foto pendamping memperlihatkan replika Rumah Limas di Museum Balaputra Dewa, Palembang, pada 18 Januari 2024. Gambar tidak mewakili seluruh Rumah Limas dan tidak membuktikan kondisi bangunan tradisional lain di Sumatera Selatan.

Sumber: Jurnal Arsitektur ZONASI, “Limas House: The Integration of Local Wisdom and Environmental Adaptation in Traditional Palembang Architecture”, https://ejournal.upi.edu/index.php/jaz/article/view/103661 ; AIP Conference Proceedings, “Transformation of Rumah Limas due to city development”, https://pubs.aip.org/aip/acp/article/1903/1/080006/856839/Transformation-of-Rumah-Limas-due-to-city ; Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa, https://museum.kemdikbud.go.id/museum/profile/museum+negeri+sumatera+selatan

Catatan editorial: Tulisan ini ditandai sebagai artikel warisan, bukan berita terbaru atau laporan lapangan. Redaksi tidak menilai keaslian bangunan tertentu. Foto dipangkas seperlunya, diubah ukuran, dan dikonversi ke JPEG tanpa perubahan substantif.

Baca juga