Ulap Doyo Menenun Serat Hutan dan Pengetahuan Dayak Benuaq
Redaksi Berita Pilihan ·

Foto: Ezagren / Wikimedia Commons / CC BY-SA 4.0
Ulap Doyo adalah tradisi tenun masyarakat Dayak Benuaq di Kalimantan Timur. “Ulap” berarti kain, sedangkan doyo merujuk pada tumbuhan Curculigo latifolia yang serat daunnya diolah menjadi benang. Bahan, teknik, motif, dan pemakaian membuat selembar kain menjadi hasil pertemuan pengetahuan lingkungan dan keterampilan tangan.
Pangkalan data Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencatat Ulap Doyo sebagai kemahiran dan kerajinan tradisional dari Kutai Barat. Karya budaya ini ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 238/M/2013. Catatan tersebut juga menyebut keberadaannya sejak setidaknya abad ke-16, pada masa akhir Kutai Martadipura.
Prosesnya dimulai jauh sebelum alat tenun digunakan. Daun doyo dipilih, diambil seratnya, dikeringkan, kemudian dipintal menjadi benang. Tahap-tahap ini menuntut pengetahuan tentang tumbuhan dan mutu serat. Jika sumber bahan berkurang, keberlanjutan tenun ikut terancam meskipun keterampilan menenun masih diwariskan.
Kain dipakai dalam upacara adat maupun kehidupan sehari-hari. Pangkalan data kebudayaan mencatat laki-laki dan perempuan dapat mengenakannya, sementara motif tertentu memiliki penggunaan khusus. Karena makna motif dapat berbeda menurut komunitas dan konteks, penjelasan sebaiknya merujuk pada penenun atau pemangku budaya, bukan ditebak dari bentuk visual semata.
Ulap Doyo juga memperlihatkan bagaimana warisan budaya hidup berdampingan dengan ekonomi kreatif. Pengembangan produk dapat membuka penghasilan bagi perajin, tetapi perubahan bentuk dan pemasaran perlu tetap menyebut asal budaya, pembuat, serta bahan yang dipakai. Transparansi menghindarkan kain tradisi dari pemutusan hubungan dengan komunitasnya.
Pembeli dapat ikut menjaga rantai ini dengan menanyakan siapa penenunnya, apakah bahan benar-benar menggunakan serat doyo, dan bagaimana produk dirawat. Harga tidak hanya mencakup benda jadi, melainkan waktu untuk memperoleh bahan, memintal, menata motif, dan menenun. Dokumentasi yang baik juga membantu membedakan karya autentik dari produk yang hanya meminjam nama.
Pelestarian Ulap Doyo akhirnya bergantung pada dua hal yang saling terkait: keberlanjutan tumbuhan doyo dan keberlanjutan pengetahuan penenun. Menjaga salah satunya tanpa yang lain akan membuat tradisi kehilangan pijakan. Kain ini layak dibaca sebagai arsip hidup hubungan masyarakat Dayak Benuaq dengan hutan dan keterampilan turun-temurun.
Sumber: https://budaya.data.kemdikbud.go.id/wbtb/objek/AA000691; https://kwriu.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2017/11/MINISTERIAL-DECREE-OF-THE-MEC-NUMBER-238-OF-2013-ICHI-2013.pdf; https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/category/info-budaya/page/95/.
Catatan editorial dan foto: artikel budaya evergreen berbasis data resmi warisan budaya; bukan berita terbaru. Foto dibuat 2014-11-13 14:52:39 oleh Ezagren dan mendokumentasikan penenun Dayak Tonyooi-Benuaq. Halaman foto: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Penenun_Ulap_Doyo.jpg. Lisensi: CC BY-SA 4.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0). Perubahan gambar: diperkecil maksimal 1600 piksel dan dikonversi ke JPEG; tidak ada perubahan isi visual.
Seni
Seni
Seni
Inspirasi
Inspirasi
Warisan