Berita Pilihan
Warisan

Keris, Membaca Dhapur, Pamor, dan Tangguh dalam Satu Bilah

Redaksi Opinix ·

Keris buatan tangan, 27 Oktober 2018. Foto dokumentasi bentuk bilah dan sarung; berkas diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.
Keris buatan tangan, 27 Oktober 2018. Foto dokumentasi bentuk bilah dan sarung; berkas diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.
Foto: Sandhi Irawan, 27 Oktober 2018, CC BY-SA 4.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/) — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Hand-made_Kris.jpg

Keris adalah belati asimetris khas Indonesia, tetapi maknanya tidak berhenti pada bentuk senjata. artikel ini membaca keris sebagai keterampilan, benda warisan, dan bahasa visual berdasarkan keterangan UNESCO; tulisan ini bukan penilaian keaslian atau harga sebuah keris.

UNESCO mencatat Indonesian Kris dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2008, setelah sebelumnya diproklamasikan pada 2005. Penetapan itu mengakui pengetahuan dan praktik budaya yang hidup, bukan sekadar menginventarisasi benda logam.

Nilai estetik keris dapat dibaca melalui dhapur, yaitu bentuk dan rancangan bilah; pamor, yakni pola hias dari perpaduan logam; serta tangguh, yang merujuk pada perkiraan usia dan asal. Ketiga istilah itu menunjukkan bahwa pengamatan keris melibatkan bentuk, bahan, teknik, dan konteks sejarah.

Pembuat bilah disebut empu. UNESCO menjelaskan prosesnya menggunakan lapisan berbagai bijih besi dan nikel, lalu logam dilipat dan dikerjakan dengan ketelitian tinggi; pengetahuan seorang empu juga bersinggungan dengan sastra, sejarah, dan sistem makna yang berkembang di masyarakat.

Keris diwariskan antargenerasi dan hadir dalam upacara, busana, pusaka keluarga, simbol status, serta berbagai konteks spiritual. Ragam fungsi itu tidak boleh disederhanakan menjadi satu tafsir tunggal karena makna dapat berbeda menurut daerah, keluarga, masa, dan komunitas pemiliknya.

Foto pendamping memperlihatkan keris buatan tangan pada 27 Oktober 2018. Gambar membantu melihat hubungan bilah dan sarungnya, tetapi tidak cukup untuk menentukan dhapur, pamor, tangguh, keaslian, atau nilai budaya objek tanpa pemeriksaan ahli dan riwayat yang jelas.

Sumber: UNESCO Intangible Cultural Heritage, “Indonesian Kris”, berkas nominasi 00112, tercatat 2008, https://ich.unesco.org/en/RL/indonesian-kris-00112

Catatan editorial: Tulisan ini ditandai sebagai artikel warisan budaya dan bukan berita terbaru. Redaksi tidak menaksir usia, keaslian, kekuatan gaib, atau harga keris pada foto. Berkas foto hanya diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.

Baca juga