Berita Pilihan
Budaya

Cakalele Hidup melalui Gerak, Irama, dan Ragam Daerah

Redaksi Opinix ·

Pertunjukan Cakalele di Maluku dalam dokumentasi terbuka. Tanggal sumber: 2019-10-12.
Pertunjukan Cakalele di Maluku dalam dokumentasi terbuka. Tanggal sumber: 2019-10-12.
Foto: Foto: Ardian Djati. Halaman berkas: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Cakalele_-_Maluku.jpg. Lisensi: CC BY-SA 4.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0). Perubahan: orientasi disesuaikan, ukuran diperkecil, dan format dikonversi ke JPEG; substansi gambar tidak diubah.

Ini adalah artikel budaya, bukan laporan pertunjukan terbaru. Cakalele dikenal sebagai seni pertunjukan dari kawasan Maluku dan juga tercatat dalam data Warisan Budaya Takbenda Indonesia untuk Maluku Utara. Data Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya menempatkannya dalam ranah seni pertunjukan.

Laman data kebudayaan nasional menjelaskan salah satu penafsiran nama dalam bahasa Ternate: caka dikaitkan dengan roh atau semangat, sedangkan lele dengan mengamuk. Penjelasan etimologis itu berasal dari entri tertentu dan tidak boleh dipakai untuk menyamaratakan semua pemaknaan Cakalele di berbagai pulau dan komunitas.

Sumber kebudayaan juga memperlihatkan Cakalele hadir dalam konteks yang beragam. Di Negeri Huaulu, Seram Utara, tarian ini disebut sebagai salah satu pertunjukan di baileu, ruang adat tempat rapat negeri dan pelantikan raja. Dokumentasi festival di Masohi pun mencatat Cakalele bersama seni tari dan musik lokal lain.

Perbedaan konteks berarti kostum, jumlah penampil, urutan, iringan, fungsi, dan makna dapat berubah menurut komunitas. Foto artikel hanya memperlihatkan satu pertunjukan di Maluku. Pembaca tidak seharusnya menganggap tampilan itu sebagai bentuk tunggal atau standar untuk seluruh wilayah.

Mendokumentasikan Cakalele perlu dilakukan dengan persetujuan penyelenggara dan pelaku. Penjelasan tentang simbol, senjata pertunjukan, nyanyian, atau hubungan dengan upacara sebaiknya bersumber dari komunitas pemilik tradisi. Label yang dibuat untuk kepentingan wisata tidak boleh menggantikan keterangan mereka.

Kelestarian bukan hanya mempertahankan gerak yang terlihat. Ia mencakup pengetahuan penari, pemusik, pembuat perlengkapan, bahasa, ruang pertunjukan, dan cara pengetahuan diwariskan. Karena itu, mengenal Cakalele dengan baik dimulai dari menyebut asal pertunjukan secara spesifik dan mengakui ragamnya.

Sumber: Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, data Warisan Budaya Takbenda “Cakalele”, https://budaya.data.kemdikbud.go.id/wbtb/objek/AA000090 ; Balai Pelestarian Nilai Budaya Maluku, “Festival Budaya Masyarakat Masohi 2017: Budaya Lokal Aset Bangsa”, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbmaluku/festival-budaya-masyarakat-masohi-2017-budaya-lokal-aset-bangsa/ ; Balai Pelestarian Cagar Budaya Maluku Utara, “Negeri Huaulu Seram Utara”, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbmalut/negeri-huaulu-seram-utara/ . Diakses 12 Oktober 2026.

Catatan editorial: Tulisan ini merangkum sumber kebudayaan resmi dan sengaja tidak menyeragamkan variasi Cakalele. Redaksi tidak mengklaim wawancara dengan komunitas, dokumentasi lapangan, atau pengetahuan ritual yang tidak tercantum pada sumber.

Baca juga