Berita Pilihan
Budaya

Kabasaran Perlu Dibaca melalui Gerak, Bunyi, dan Pelakunya

Redaksi Opinix ·

Pertunjukan Tari Kabasaran dari Sulawesi Utara, didokumentasikan 17 Agustus 2018. Foto dipotong seperlunya, diubah ukuran, dan dikonversi ulang ke JPEG.
Pertunjukan Tari Kabasaran dari Sulawesi Utara, didokumentasikan 17 Agustus 2018. Foto dipotong seperlunya, diubah ukuran, dan dikonversi ulang ke JPEG.
Foto: Rian Tatuwo, 17 Agustus 2018, CC BY-SA 4.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/) — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Tarian_Kabasaran.jpg

Foto 17 Agustus 2018 memperlihatkan pertunjukan Tari Kabasaran dari Sulawesi Utara. Busana merah, senjata, dan sikap tubuh mudah menarik perhatian, tetapi gambar diam hanya menangkap satu momen. Tarian perlu dipahami bersama gerak, iringan, konteks, dan pengetahuan pelakunya.

Portal Desa Wisata Kementerian Pariwisata memakai dua ejaan, Kawasaran dan Kabasaran, serta menempatkan tradisi ini di Minahasa. Salah satu halaman menyebut iringan tambur dan gong kecil serta penampilan untuk acara tertentu atau penyambutan tokoh adat. Keterangan antarhalaman tidak selalu identik, sehingga variasi lokal perlu dipertahankan.

Arsip Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggambarkan Kabasaran sebagai tarian penyambutan tamu penting dengan bentuk yang menyerupai olah ketangkasan atau persiapan perang. Sumber itu menyebut pedang atau parang, perisai, dan tombak, tetapi daftar benda tidak dapat menggantikan penjelasan pemilik tradisi tentang makna serta aturan penggunaannya.

Kesalahan umum ialah membaca ekspresi tegas sebagai kemarahan nyata atau menganggap semua properti sekadar hiasan. Dalam pertunjukan, mimik, suara, formasi, dan tempo merupakan unsur artistik yang dipelajari. Penafsiran sebaiknya berangkat dari keterangan penari dan pelatih, bukan stereotip tentang masyarakat Minahasa.

Dokumentasi budaya yang baik mencatat nama kelompok, desa atau sanggar, kesempatan pertunjukan, repertoar, penata, pemusik, dan persetujuan penggunaan gambar. Metadata foto ini menyediakan tanggal dan fotografer, tetapi tidak menyebut seluruh pelaku. Kekosongan itu harus diakui, bukan diisi dengan nama rekaan.

Bagi penonton, penghormatan dapat dimulai dengan menyimak sampai selesai, tidak memasuki ruang tampil, dan tidak memegang senjata atau busana tanpa izin. Jika mengunggah rekaman, atribusi kepada kelompok dan konteks lebih bermakna daripada hanya memakai label ‘tari perang’ untuk menarik perhatian.

Kabasaran terus hadir sebagai tradisi pertunjukan, namun satu foto tidak dapat menetapkan bentuk yang paling asli atau mewakili semua komunitas. Ia menjadi pintu masuk untuk belajar, sementara pengetahuan yang lebih utuh tetap berada pada hubungan dengan pelaku, arsip, dan praktik yang hidup.

Sumber: Kementerian Pariwisata, Jadesta, ‘Atraksi Budaya Kawasaran’ (https://jadesta.kemenpar.go.id/atraksi/atraksi_budaya_kawasaran) dan ‘Atraksi Tari Kabasaran’ (https://jadesta.kemenpar.go.id/atraksi/tari_kabasaran); Kemendikbud, Buletin Arkeologi Sulawesi Utara No. 6/2006 (https://repositori.kemendikdasmen.go.id/23934/1/Jejak%20arkeologi%20di%20sulut%2C%20gorontalo%2C%20sulteng%20dan%20daerah%20lainnya%20buletin%20no%206%20tahun%202006.pdf); halaman foto Wikimedia Commons (https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Tarian_Kabasaran.jpg).

Catatan editorial: Artikel ini adalah artikel literasi budaya, bukan definisi tunggal untuk seluruh komunitas Minahasa. Ejaan, susunan, fungsi, dan aturan pertunjukan dapat berbeda; redaksi tidak mewawancarai penari pada foto.

Baca juga