Berita Pilihan
Budaya

Wayang Potehi Menghidupkan Cerita lewat Panggung Boneka Sarung

Redaksi Opinix ·

Panggung pertunjukan wayang potehi koleksi kelompok Potehi Gudo, Jawa Timur, dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta pada 6 Mei 2018. Berkas diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.
Panggung pertunjukan wayang potehi koleksi kelompok Potehi Gudo, Jawa Timur, dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta pada 6 Mei 2018. Berkas diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.
Foto: Cun Cun, 6 Mei 2018, CC BY-SA 4.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/) — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Panggung_Wayang_Potehi_Gudo.jpg

Panggung wayang potehi membingkai dunia cerita dalam ruang yang ringkas. Foto dari pameran di Bentara Budaya Jakarta pada 6 Mei 2018 memperlihatkan panggung koleksi kelompok Potehi Gudo, Jawa Timur, lengkap dengan bukaan tempat boneka tampil.

Kajian Yuan-Hsin Tung dan Dewi Woro Retno Mastuti menyebut wayang potehi sebagai warisan boneka sarung Hokkien dari Tiongkok selatan yang hadir di kepulauan Indonesia melalui migrasi orang Fujian pada akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17.

Istilah boneka sarung merujuk pada cara penggerak memasukkan tangan ke tubuh boneka. Gerak kepala dan lengan lalu dipadukan dengan suara, dialog, musik, dan ritme adegan; panggung yang tampak kecil menyembunyikan kerja bersama banyak unsur.

Secara historis, pertunjukan banyak hadir di lingkungan komunitas Tionghoa Indonesia dan kelenteng, termasuk dalam konteks penghormatan kepada dewa atau leluhur serta ungkapan syukur. Fungsi ritual dan fungsi tontonan dapat bertemu, sehingga konteks penyelenggaraan perlu diperhatikan.

Penelitian 2022 tentang Rumah Cinwa menunjukkan bahwa praktik kontemporer juga bergerak melalui pelokalan bentuk boneka, repertoar, dan iringan musik, serta promosi digital. Perubahan tidak otomatis menghapus tradisi; ia dapat menjadi bagian dari cara pelaku menegosiasikan keberlanjutan.

Karena itu, satu panggung atau satu boneka tidak mewakili seluruh ragam potehi di Indonesia. Perbedaan kelompok, wilayah, tujuan pertunjukan, bahasa, dan generasi pemain dapat menghasilkan pilihan artistik yang berbeda.

Mendokumentasikan potehi sebaiknya menyertakan nama kelompok, dalang atau pemain bila diketahui, tempat, tanggal, konteks acara, dan izin perekaman. Keterangan itu menjaga foto tidak terlepas dari para pelaku yang mempertahankan pengetahuan pertunjukan.

Sumber: Yuan-Hsin Tung dan Dewi Woro Retno Mastuti, “Revitalizing Potehi Practice: Preservation, Innovation, and Transmission by Rumah Cinwa in Contemporary Indonesia”, International Journal of Traditional Arts 4(1), 2022, https://tradartsjournal.ncl.ac.uk/index.php/ijta/article/view/57 ; halaman foto Wikimedia Commons tercantum pada kredit.

Catatan editorial: Artikel ini merupakan artikel budaya evergreen dan tidak mengaku sebagai liputan pertunjukan atau wawancara. Foto mendokumentasikan panggung pada sebuah pameran, bukan keseluruhan praktik wayang potehi; perubahan hanya berupa pengubahan ukuran dan konversi JPEG.

Baca juga