Keso-keso Mengiringi Tradisi Sinrilik Makassar
Redaksi Opinix ·

Foto: Tropenmuseum, kredit koleksi Wereldmuseum Amsterdam / Wikimedia Commons — CC BY-SA 3.0 — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Strijkluit_met_twee_snaren_TMnr_1205-3a.jpg — lisensi: https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/
keso, alat musik gesek berdawai yang berkaitan dengan tradisi sinrilik di Sulawesi Selatan. Foto koleksi Tropenmuseum mendeskripsikan bendanya sebagai lute gesek dua dawai dan mengelompokkannya dalam kategori keso-keso serta budaya Sulawesi Selatan.
Artikel penelitian pada Jurnal Kajian Seni Institut Seni Indonesia Yogyakarta membahas sinrilik keso-keso sebagai tradisi lisan Makassar. Dalam praktiknya, cerita tidak berdiri sendiri: suara penutur dan iringan alat musik membentuk cara kisah disampaikan serta diterima pendengar.
Istilah sinrilik mengacu pada tradisi tutur, sedangkan keso-keso menunjuk instrumen pengiring yang digesek. Membedakan keduanya membantu pembaca agar tidak menyebut seluruh pertunjukan hanya sebagai nama alat atau menganggap bendanya terpisah dari praktik bercerita.
Bentuk dua dawai pada benda museum memberi petunjuk tentang cara menghasilkan bunyi, tetapi foto tidak merekam teknik permainan, laras, repertoar, atau hubungan penampil dengan audiens. Pengetahuan itu hidup dalam pertunjukan dan pada pelaku tradisi, bukan pada benda koleksi saja.
Dokumentasi sebelum 1938 memperlihatkan bahwa keso-keso telah lama masuk dalam kerja pengumpulan museum. Namun, tanggal koleksi bukan tanggal lahir tradisi; ia hanya batas dokumentasi yang tercatat pada berkas foto.
Membaca koleksi kolonial juga memerlukan kehati-hatian. Nama, ejaan, dan keterangan singkat dari katalog lama mungkin tidak memuat suara komunitas secara utuh, sehingga penelitian kontemporer dan pengetahuan pelaku setempat penting untuk melengkapi konteks.
Keso-keso memperlihatkan bahwa warisan bunyi bergantung pada lebih dari pemeliharaan benda. Keberlanjutan tradisi memerlukan penutur, pemain, ruang pertunjukan, pendengar, serta dokumentasi yang menghormati asal dan peran komunitas Makassar.
Sumber: Jurnal Kajian Seni, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, “Sinrilik Keso-keso”, https://journal.isi.ac.id/index.php/JTKS/article/view/12053 ; metadata koleksi Wereldmuseum Amsterdam melalui Wikimedia Commons, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Strijkluit_met_twee_snaren_TMnr_1205-3a.jpg (diakses 15 Oktober 2026).
Catatan editorial: artikel evergreen ini disusun Redaksi Opinix dari artikel ilmiah dan metadata koleksi berlisensi terbuka; bukan berita terbaru, rekonstruksi pertunjukan, atau hasil wawancara dengan pelaku tradisi.
Seni
Seni
Seni
Inspirasi
Inspirasi
Warisan