Gamelan Sekaten Dibunyikan sebagai Bagian dari Rangkaian Tradisi
Redaksi Opinix ·

Foto: Pandjisaputra94, 26 November 2017, CC BY-SA 4.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/) — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Gamelan_Sekaten_Kanjeng_Kiai_Guntur_Madu_dalam_Acara_Sekaten_di_Yogyakarta.jpg
Gamelan Sekaten di Keraton Yogyakarta tidak diperlakukan sebagai perangkat pertunjukan yang dimainkan kapan saja. Dua perangkat pusaka, Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga, dibunyikan dalam rangkaian Sekaten yang berkaitan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad.
Keraton Yogyakarta menjelaskan bahwa Gangsa Sekati hanya dimainkan pada perayaan Sekaten. Sumber resmi keraton juga menelusuri Kanjeng Kiai Gunturmadu ke masa Sultan Agung dan menjelaskan bahwa Yogyakarta kemudian memiliki pasangan perangkat dengan Kanjeng Kiai Nagawilaga.
Rangkaian upacara dimulai ketika gamelan dikeluarkan dari tempat penyimpanan menuju Bangsal Pancaniti. Setelah itu perangkat dibawa ke pagongan di kompleks Masjid Gedhe. Perpindahan, penempatan, waktu tabuh, dan kembalinya gamelan merupakan bagian dari tata upacara, bukan sekadar logistik alat musik.
Dinas Kebudayaan DIY menyebut gamelan ditempatkan di pagongan utara dan selatan serta dimainkan pada hari-hari rangkaian Sekaten. Keterangan jadwal tradisional perlu dibaca bersama pengumuman resmi tahun berjalan karena penanggalan, tata kunjung, dan pembatasan kawasan dapat berubah.
Daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia menetapkan Sekaten sebagai upacara atau ritual dari Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2014. Pencatatan itu menempatkan tradisi sebagai praktik hidup yang melibatkan pengetahuan, pelaku, ruang, dan tata cara, bukan hanya benda gamelan.
Bagi pengunjung, mendengar gamelan berarti memasuki kegiatan yang memiliki makna religius dan budaya. Mengikuti jalur, menjaga ketenangan, tidak menghalangi prosesi, serta mematuhi larangan menyentuh atau memotret adalah bagian dari menghormati pemilik tradisi.
Foto pendamping memperlihatkan Kanjeng Kiai Guntur Madu dalam perayaan Sekaten di Yogyakarta pada 26 November 2017. Gambar mendokumentasikan satu waktu dan tidak mewakili seluruh rangkaian, bunyi, atau aturan penyelenggaraan setiap tahun.
Sumber: Keraton Yogyakarta, “Gangsa Pakurmatan”, https://kratonjogja.id/kagungan-dalem/59-gangsa-pakurmatan/ ; Keraton Yogyakarta, “Syiar Islam Melalui Sekaten”, https://www.kratonjogja.id/hajad-dalem/12-syiar-islam-melalui-sekaten/ ; Dinas Kebudayaan DIY, “Upacara Sekaten”, https://budaya.jogjaprov.go.id/artikel/detail/177-upacara-sekaten ; Direktorat Jenderal Kebudayaan, “Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2014”, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/penetapan-warisan-budaya-takbenda-indonesia-2014/
Catatan editorial: Tulisan ini ditandai sebagai artikel budaya, bukan berita jadwal Sekaten tahun berjalan. Istilah, pasangan gamelan, dan urutan umum diringkas dari sumber keraton serta pemerintah; detail kunjungan harus dicek kembali. Foto hanya diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.
Seni
Seni
Seni
Inspirasi
Inspirasi
Warisan