Berita Pilihan
Budaya

Gringsing Tenganan dan Kerumitan Ikat Ganda dari Bali

Redaksi Opinix ·

Kain bahu Geringsing wayang kebo dari Bali, bertarikh 1800–1899, koleksi Rijksmuseum. Satu benda museum, bukan gambaran seluruh motif atau produksi kini; berkas diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.
Kain bahu Geringsing wayang kebo dari Bali, bertarikh 1800–1899, koleksi Rijksmuseum. Satu benda museum, bukan gambaran seluruh motif atau produksi kini; berkas diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.
Foto: Rijksmuseum, objek abad ke-19, CC0 1.0 (https://creativecommons.org/publicdomain/zero/1.0/) — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Schouderdoek_Geringsing_wayang_kebo%2C_AK-MAK-1742-3.jpg

Gringsing merupakan kain ikat ganda yang berakar di Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali. artikel ini membahas teknik dan konteks budayanya melalui catatan warisan serta koleksi museum; tulisan ini bukan hasil wawancara dengan penenun atau panduan menilai keaslian kain.

Pada ikat ganda, pola direncanakan pada benang lungsi dan benang pakan sebelum keduanya ditenun. Kedua susunan berwarna harus bertemu ketika kain dibentuk, sehingga prosesnya menuntut perencanaan, pengikatan, pewarnaan, dan penyelarasan yang lebih rumit daripada kain dengan hanya satu kelompok benang berpola.

Basis data Warisan Budaya Takbenda Kementerian Kebudayaan mencatat Gringsing Tenganan sebagai objek warisan. Pencatatan tersebut menegaskan hubungan kain dengan komunitas dan wilayah, tetapi tidak berarti seluruh benda bermotif serupa otomatis memiliki asal, bahan, atau proses yang sama.

Koleksi Rijksmuseum menunjukkan kain bahu Geringsing wayang kebo yang dibuat di Bali pada abad ke-19. Catatan museum menggambarkannya sebagai kain seremonial dengan figur wayang. Satu koleksi sejarah ini membantu melihat ragam motif, namun tidak mewakili seluruh penggunaan Gringsing di Tenganan.

Makna kain tidak dapat dipisahkan dari orang yang membuat dan memakainya. Informasi motif yang beredar untuk wisata atau perdagangan perlu dibandingkan dengan dokumentasi komunitas dan penelitian yang bertanggung jawab, terutama ketika menyangkut penggunaan ritual atau istilah lokal.

Bagi pembeli, pertanyaan tentang nama penenun, tempat pembuatan, bahan, pewarna, waktu pengerjaan, dan teknik lebih berguna daripada hanya melihat kemiripan pola. Dokumentasi asal membantu menghargai kerja penenun sekaligus mengurangi pencampuran antara ikat ganda, cetak motif, dan tradisi tekstil Bali lainnya.

Foto pendamping memperlihatkan kain bahu Geringsing wayang kebo koleksi Rijksmuseum yang bertarikh antara 1800 dan 1899. Gambar menunjukkan satu benda museum, bukan kondisi, warna, atau praktik produksi Gringsing masa kini.

Sumber: Kementerian Kebudayaan, Warisan Budaya Takbenda “Gringsing Tenganan”, https://budaya.data.kemdikbud.go.id/wbtb/objek/AA000138 ; Rijksmuseum, koleksi “Schouderdoek. Geringsing wayang kebo”, http://hdl.handle.net/10934/RM0001.COLLECT.628515 ; Wikimedia Commons, “Schouderdoek Geringsing wayang kebo, AK-MAK-1742-3”, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Schouderdoek_Geringsing_wayang_kebo%2C_AK-MAK-1742-3.jpg

Catatan editorial: Tulisan ini ditandai sebagai artikel budaya, bukan berita terbaru dan bukan sertifikat keaslian tekstil. Redaksi tidak mewawancarai komunitas Tenganan. Foto hanya diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.

Baca juga