Berita Pilihan
Seni

Pâte-sur-pâte Membentuk Relief Keramik dari Lapisan Slip Tipis

Redaksi ·

Vas bertutup dengan dua putti dalam teknik pâte-sur-pâte, dibuat sekitar 1865 dan dikoleksi Kunstgewerbemuseum Berlin.
Vas bertutup dengan dua putti dalam teknik pâte-sur-pâte, dibuat sekitar 1865 dan dikoleksi Kunstgewerbemuseum Berlin.
Foto: Manufacture nationale de Sèvres; fotografer tidak diketahui / Wikimedia Commons (Public domain)

Pâte-sur-pâte berarti kira-kira pasta di atas pasta. Pada teknik ini, pembuat keramik menambahkan lapisan tipis slip atau tanah liat cair di atas badan keramik berwarna untuk membangun gambar relief sebelum pembakaran.

Cooper Hewitt menjelaskan prosesnya sebagai pekerjaan kompleks dan memakan waktu. Lapisan harus ditambahkan berturut-turut; bagian tertentu dibiarkan lebih tebal untuk membentuk volume, sementara bagian lain ditipiskan agar relief tampak ringan atau tembus cahaya.

Berbeda dari ornamen cetak yang ditempel, gambar pâte-sur-pâte biasanya dibangun langsung dengan kuas dan kemudian dapat dikikis atau dirapikan. Jejak tangan pembuat hadir pada ketebalan, tepi, dan transisi nada di setiap bidang.

Kontras putih di atas badan berwarna sering menghasilkan efek seperti cameo. Namun, kemiripan visual tidak berarti bahannya sama: cameo batu dipahat dari lapisan material, sedangkan pâte-sur-pâte menyusun dan mengurangi slip keramik sebelum dibakar.

Teknik ini dikembangkan di Sèvres pada abad ke-19 dan kemudian dikenal luas melalui karya pembuat seperti Marc-Louis Solon. Catatan museum membantu menghubungkan nama teknik dengan benda, tanggal, pabrik, dan bahan tertentu tanpa menganggap semua contoh dibuat dengan resep identik.

Foto pendamping menunjukkan vas bertutup buatan Manufacture nationale de Sèvres sekitar 1865, dengan dua putti dalam dekorasi pâte-sur-pâte. Benda tersebut disimpan di Kunstgewerbemuseum Berlin dan berfungsi sebagai contoh historis, bukan pola kerja untuk produksi modern.

Melihat karya pâte-sur-pâte berarti memperhatikan bukan hanya motif, tetapi juga urutan kerja: cairan ditaruh, dikeringkan, ditambah, dikurangi, lalu dibakar. Risiko retak, perubahan warna, atau hilangnya detail membuat setiap tahap bergantung pada kendali bahan dan waktu.

Sumber: https://www.cooperhewitt.org/tag/pate-sur-pate/ ; https://www.metmuseum.org/art/collection/search/204735

Catatan editorial: artikel evergreen ini merangkum penjelasan Cooper Hewitt Smithsonian Design Museum dan catatan koleksi The Metropolitan Museum of Art. Istilah dan hasil teknik dapat berbeda menurut bengkel, bahan, dan periode.

Dokumentasi foto: Vas bertutup dengan dua putti dalam teknik pâte-sur-pâte, dibuat sekitar 1865 dan dikoleksi Kunstgewerbemuseum Berlin.

Kredit foto: Manufacture nationale de Sèvres; fotografer tidak diketahui / Wikimedia Commons.

Halaman foto: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Vase_%C3%A0_couvercle_avec_deux_puttis_en_p%C3%A2te-sur-p%C3%A2te.JPG

Lisensi foto: Public domain — https://commons.wikimedia.org/wiki/Commons:Public_domain

Perubahan gambar: orientasi EXIF dinormalkan, dikonversi ke JPEG, diperkecil proporsional hingga sisi terpanjang 1.600 piksel, dan dikompresi; tidak ada perubahan isi.

Baca juga