Berita Pilihan
Seni

Sasando Menyatukan Bambu, Dawai, dan Resonansi Lontar

Redaksi Berita Pilihan ·

Alat musik sasando dengan resonator daun lontar, didokumentasikan pada 13 Mei 2014.
Alat musik sasando dengan resonator daun lontar, didokumentasikan pada 13 Mei 2014.
Foto: Foto: Fakhri Anindita — 13 Mei 2014. Wikimedia Commons: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Alat_Musik_Sasando.jpg. Lisensi CC BY-SA 4.0. Perubahan: dipangkas proporsional, diperkecil, dan dikonversi ke JPEG.

Sasando merupakan alat musik petik yang berakar di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Bentuknya segera dikenali melalui tabung utama berdawai yang dikelilingi bidang melengkung dari daun lontar.

Daun lontar bukan sekadar hiasan. Susunannya bekerja sebagai resonator yang menangkap dan memperkuat getaran dawai, sehingga hubungan antara bahan alam dan rancangan akustik menjadi bagian penting dari karakter bunyi sasando.

Sumber kebudayaan pemerintah mencatat adanya beberapa kisah mengenai asal-usul sasando. Keragaman versi itu perlu dibaca sebagai tradisi lisan, bukan dipaksa menjadi satu kronologi sejarah yang pasti.

Cara memainkan sasando menuntut koordinasi kedua tangan untuk memetik kelompok dawai. Perbedaan susunan nada serta perkembangan bentuk akustik dan elektrik menunjukkan bahwa instrumen tradisional dapat berubah tanpa kehilangan rujukan budayanya.

Pelestarian sasando tidak cukup berhenti pada memajang bentuknya. Pengetahuan membuat resonator, menyetem dawai, memainkan repertoar, dan mengajarkannya kepada generasi berikutnya merupakan rangkaian keterampilan yang menjaga instrumen tetap hidup.

Sumber: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbbali/sejarah-lahirnya-alat-musik-sasando/ ; https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpsmpsangiran/pelindungan-paten-alat-musik-tradisional-penting-sebagai-upaya-pelestarian-budaya/

Catatan editorial: Artikel ini merupakan artikel seni berbasis sumber kebudayaan pemerintah; kisah asal-usul diperlakukan sebagai tradisi lisan, bukan berita terbaru.

Baca juga