Berita Pilihan
Seni

Shibayama Membentuk Relief Inlay pada Permukaan Lak Jepang

Redaksi Opinix ·

Inrō lima bagian yang dikaitkan dengan lokakarya Kajikawa dan Shibayama, Jepang, sekitar 1850; difoto di Montreal Museum of Fine Arts pada 28 September 2016. Ukuran diubah dan dikonversi ke JPEG tanpa pemotongan.
Inrō lima bagian yang dikaitkan dengan lokakarya Kajikawa dan Shibayama, Jepang, sekitar 1850; difoto di Montreal Museum of Fine Arts pada 28 September 2016. Ukuran diubah dan dikonversi ke JPEG tanpa pemotongan.
Foto: Daderot, 28 September 2016, CC0 1.0 (https://creativecommons.org/publicdomain/zero/1.0/) — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Five-case_seal_caddy_(inro),_attributed_to_the_Kajikawa_and_Shibayama_workshops,_Japan,_Edo_period,_c._1850,_maki-e_lacquer_on_wood,_ivory_inlay_-_Montreal_Museum_of_Fine_Arts_-_Montreal,_Canada_-_DSC09573.jpg

Shibayama adalah gaya dekorasi Jepang yang memasang potongan bahan berbeda pada permukaan lak hingga membentuk gambar berwarna dan berelief. Unsurnya tidak hanya berada rata dengan dasar, melainkan dapat menonjol sehingga burung, bunga, atau benda lain terbaca melalui warna, tekstur, dan bayangan.

The Metropolitan Museum of Art mencatat sebuah inrō abad ke-19 karya Shibayama Shokasai dan lingkungan Sekolah Kajikawa memakai lak, emas hiramakie, kirigane, nashiji, logam, gading, serta raden. Daftar material itu menunjukkan bahwa Shibayama sering bekerja bersama teknik lak lain, bukan berdiri sebagai satu lapisan tunggal.

Objek Met lain dari zaman Meiji menampilkan burung, prem, krisan, dan loquat pada dasar lak emas dengan inlay kulit kerang, koral, dan gading berwarna dalam gaya Shibayama. Keterangan tersebut berasal dari katalog museum dan merujuk benda historis, bukan anjuran memakai bahan satwa pada produksi masa kini.

British Museum mengelompokkan nama Shibayama sebagai studio atau kelompok yang dikenal membuat karya lak ber-inlay. Atribusi museum dapat memakai istilah ‘gaya’, ‘sekolah’, atau nama pembuat karena objek berpindah melalui lokakarya dan jaringan produksi yang tidak selalu menyisakan dokumentasi lengkap.

Membaca karya semacam ini membutuhkan perhatian pada hubungan antara bidang lak dan potongan inlay: garis emas membangun latar, sementara bahan yang menonjol memberi volume. Risiko retak, lepas, atau perubahan permukaan membuat konservasi museum berbeda dari pembersihan benda rumah tangga biasa.

Foto pendamping memperlihatkan inrō lima bagian yang dikaitkan dengan lokakarya Kajikawa dan Shibayama, Jepang, sekitar 1850, dalam koleksi Montreal Museum of Fine Arts. Foto diambil Daderot pada 28 September 2016.

Sumber: The Metropolitan Museum of Art, ‘Inrō’, koleksi nomor 58.67 dan 58.86, https://www.metmuseum.org/art/collection/search/58786 dan https://www.metmuseum.org/art/collection/search/58867 ; British Museum, biografi ‘Shibayama’, https://www.britishmuseum.org/collection/term/BIOG183111 ; Wikimedia Commons, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Five-case_seal_caddy_(inro),_attributed_to_the_Kajikawa_and_Shibayama_workshops,_Japan,_Edo_period,_c._1850,_maki-e_lacquer_on_wood,_ivory_inlay_-_Montreal_Museum_of_Fine_Arts_-_Montreal,_Canada_-_DSC09573.jpg

Catatan editorial: Artikel ini adalah artikel sejarah seni. Penyebutan gading dan koral mengikuti katalog benda historis, bukan dukungan perdagangan bahan satwa. Foto Daderot dilepas dengan CC0 1.0, diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG tanpa pemotongan.

Baca juga