Berita Pilihan
Budaya

Celempung Menambah Warna Dawai dalam Gamelan Jawa

Redaksi Opinix ·

Sebuah celempung yang diberi keterangan berasal dari awal abad ke-20, didokumentasikan Januari 2016. Foto objek tidak menunjukkan teknik, laras, atau konteks pertunjukan; berkas diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.
Sebuah celempung yang diberi keterangan berasal dari awal abad ke-20, didokumentasikan Januari 2016. Foto objek tidak menunjukkan teknik, laras, atau konteks pertunjukan; berkas diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.
Foto: Bertramz, Januari 2016, CC BY-SA 3.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/) — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Celempung%2C1-16.jpg

Celempung adalah alat musik petik berbentuk siter kotak yang dikenal dalam tradisi gamelan Jawa. artikel ini berfokus pada bentuk berdawai yang dipetik; nama celempung juga dipakai untuk instrumen bambu dalam tradisi lain, sehingga konteks selalu perlu disebut agar keduanya tidak tercampur.

Koleksi The Metropolitan Museum of Art mengidentifikasi celempung sebagai benda Jawa berbahan kayu dan logam. Wesleyan University Virtual Instrument Museum menggolongkannya sebagai plucked zither atau siter petik, dengan badan yang ditempatkan pada kaki sehingga permukaannya miring ke arah pemain.

Senar direntangkan di atas kotak resonansi dan dimainkan dengan jari. Dalam ansambel, suara petik tidak menggantikan seluruh lapisan gamelan, melainkan hadir bersama instrumen lain. Sumber Wesleyan menempatkan celempung di antara kelompok instrumen bersuara lembut bersama rebab, gender, gambang, suling, dan vokal.

Nama yang sama dapat mengundang salah paham. Basis data Warisan Budaya Takbenda Indonesia juga memiliki entri “Celempung Jawa Barat”, sementara koleksi museum internasional mendokumentasikan celempung kotak berdawai dari Jawa. Karena bentuk, daerah, dan praktik dapat berbeda, sebuah foto atau istilah tunggal tidak cukup untuk menyimpulkan seluruh tradisi.

Membaca instrumen melalui koleksi museum juga memerlukan kehati-hatian. Label koleksi memberi bahan, wilayah, atau klasifikasi, tetapi tidak selalu merekam siapa pembuatnya, repertoar yang dimainkan, perubahan teknik, atau hubungan sosial di tempat asal. Pengetahuan hidup berada pada pemain, pembuat, dan komunitas, bukan hanya pada objek di etalase.

Bagi pendengar baru, pendekatan yang berguna adalah mencari rekaman ansambel lengkap, mengamati kapan suara celempung muncul, lalu membandingkan dengan siter atau instrumen petik lain. Perbandingan harus menyebut laras, konteks pertunjukan, dan sumber rekaman agar istilah tidak dipukul rata.

Foto Bertramz dibuat pada Januari 2016 dan menampilkan sebuah celempung yang diberi keterangan berasal dari awal abad ke-20. Foto objek membantu mengenali bentuk, tetapi tidak memperdengarkan laras, teknik permainan, atau konteks ansambelnya; berkas hanya diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.

Sumber: The Metropolitan Museum of Art, “Celempung—Javanese”, https://www.metmuseum.org/art/collection/search/501877 ; Wesleyan University Virtual Instrument Museum, “Celempung”, https://wesomeka.wesleyan.edu/vim2/items/show/13 ; Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, “Celempung Jawa Barat”, https://budaya.data.kemdikbud.go.id/wbtb/objek/AA001639

Catatan editorial: Tulisan ini ditandai sebagai artikel budaya evergreen, bukan berita terbaru. Redaksi membedakan celempung kotak berdawai dari penggunaan nama yang sama pada instrumen lain dan tidak mengklaim mewakili semua praktik daerah. Foto bebas hanya diubah ukuran dan dikonversi ke JPEG.

Baca juga