Berita Pilihan
Warisan

Pinisi adalah Pengetahuan Maritim, Bukan Sekadar Bentuk Perahu

Redaksi KabarPenduduk ·

Kapal Pinisi berlabuh setelah meninggalkan bengkel pembuatannya di pesisir Tanaberu, Bulukumba, 7 Agustus 2017. Gambar diperkecil dan disimpan ulang sebagai JPEG tanpa mengubah isi.
Kapal Pinisi berlabuh setelah meninggalkan bengkel pembuatannya di pesisir Tanaberu, Bulukumba, 7 Agustus 2017. Gambar diperkecil dan disimpan ulang sebagai JPEG tanpa mengubah isi.
Foto: Muhammad Imam Adly / Wikimedia Commons — CC BY-SA 4.0 — https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Melabuhnya_Pinisi.jpg

Pinisi sering dipakai sebagai nama untuk kapal kayu layar dari Sulawesi Selatan, tetapi pengakuan UNESCO menempatkan maknanya lebih luas. Pada 2017, “Pinisi, art of boatbuilding in South Sulawesi” masuk Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan. Yang dijaga bukan satu kapal tertentu, melainkan pengetahuan, keterampilan, praktik sosial, dan cara komunitas meneruskannya.

UNESCO menjelaskan pinisi terutama merujuk pada sistem layar dan tali-temali kapal layar Sulawesi yang terkenal. Karena itu, menyamakan setiap kapal kayu wisata dengan warisan Pinisi dapat mengaburkan unsur yang sebenarnya diakui. Laman resmi pariwisata Indonesia juga menyebut konfigurasi tiang, layar, dan tali sebagai ciri penting yang memungkinkan pelayaran jarak jauh.

Pusat pembuatan perahu yang dicatat UNESCO berada di Tana Beru, Bira, dan Batu Licin, Sulawesi Selatan. Di tempat-tempat itu, pembuatan kapal dan pelayaran berhubungan erat dengan kehidupan sosial, ekonomi, serta budaya masyarakat. Keahlian tidak berhenti pada pekerjaan membentuk kayu, melainkan mencakup pembagian tugas, pembacaan bahan, penataan bagian kapal, dan pengetahuan tentang penggunaan kapal di laut.

Pengetahuan tersebut diwariskan antargenerasi di dalam keluarga maupun melalui hubungan kerja. Sumber resmi pariwisata Indonesia menyatakan proses konstruksi bertumpu pada pengetahuan turun-temurun, bukan semata-mata gambar rancangan modern. Tahap pemilihan kayu hingga peluncuran juga disertai praktik adat yang menghubungkan kerja teknis dengan rasa syukur, penghormatan kepada alam, dan kebersamaan.

Pinisi merupakan warisan hidup karena fungsi kapalnya terus berubah. Selain pelayaran antarpulau, kapal yang dibangun dengan tradisi ini kini digunakan untuk perjalanan budaya dan wisata bahari. Perubahan fungsi tidak otomatis menghapus nilai warisan, tetapi membuat kesinambungan pengetahuan para pembuat, keterlibatan komunitas, dan ketepatan penyebutan menjadi semakin penting.

Melihat Pinisi hanya sebagai benda indah akan melewatkan bagian paling rapuh dari warisan takbenda: manusia yang menguasai keahlian dan ruang tempat mereka belajar. Pelestarian karenanya bukan sekadar memajang kapal atau memakai namanya untuk promosi, melainkan menjaga jalur pewarisan, kesempatan kerja bagi pembuat kapal, serta hubungan praktik tersebut dengan komunitas pesisir Sulawesi Selatan.

Sumber: UNESCO, “Pinisi, art of boatbuilding in South Sulawesi”, Daftar Representatif 2017, https://ich.unesco.org/en/RL/pinisi-art-of-boatbuilding-in-south-sulawesi-01197 ; Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, “Pinisi Boat: Indonesia’s Living Maritime Heritage”, diakses 9 Oktober 2026, https://www.indonesia.travel/us/en/travel-ideas/marine/pinisi ; halaman foto Wikimedia Commons, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Melabuhnya_Pinisi.jpg

Catatan editorial: Tulisan ini adalah artikel evergreen berdasarkan sumber primer UNESCO dan laman resmi pariwisata Indonesia; bukan laporan peristiwa terbaru dan redaksi tidak melakukan wawancara. Foto memperlihatkan kapal Pinisi berlabuh setelah meninggalkan bengkel pembuatannya di pesisir Tanaberu, Bulukumba, pada 7 Agustus 2017, karya Muhammad Imam Adly, berlisensi CC BY-SA 4.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). Gambar diperkecil dan disimpan ulang sebagai JPEG tanpa mengubah isi.

Baca juga